<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dian Mardiana</title>
	<atom:link href="http://dianmardiana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dianmardiana.wordpress.com</link>
	<description>Inspiring You All the Time</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Dec 2011 07:51:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dianmardiana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/9a02b3123b594d8f2507551e066b7fe9?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Dian Mardiana</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dianmardiana.wordpress.com/osd.xml" title="Dian Mardiana" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dianmardiana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Belajar dari Salah (1)</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/12/11/belajar-dari-salah-1/</link>
		<comments>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/12/11/belajar-dari-salah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 11:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianmardiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[menyunting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianmardiana.wordpress.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dian Mardiana HARI ini menjadi terasa bermakna. Begitu merenung, banyak hal yang terungkap begitu saja. Sambil makan bakso, rupanya saya teringat dengan projek yang saya dan kawan-kawan kerjakan, menyunting puluhan buku media informasi sebuah instansi.  Pada projek ini kami awalnya akan menjadi ghost writer para elitis yaitu para penulis dari instansi mereka yang kebanyakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=317&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color:#888888;">Oleh: Dian Mardiana</span></strong></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong>HARI </strong></span>ini menjadi terasa bermakna. Begitu merenung, banyak hal yang terungkap begitu saja. Sambil makan bakso, rupanya saya teringat dengan projek yang saya dan kawan-kawan kerjakan, menyunting puluhan buku media informasi sebuah instansi.  Pada projek ini kami awalnya akan menjadi <em>ghost writer</em> para elitis yaitu para penulis dari instansi mereka yang kebanyakan adalah para pejabat. Namun kami salah, dengan begitu mereka tidak belajar.<span id="more-317"></span></p>
<p>Lalu ditawarkanlah pelatihan penulisan media informasi dengan panduan penulisan yang sudah kami rancang. Sebelum pelatihan, kami sudah menugaskan mereka untuk membuat draf tulisan dengan panduan yang ada. Pada intinya tulisan itu harus mempertimbangkan siapa pembacanya, apa karakter pembaca, dan apa kepentingan pembaca sehingga dia mau dan perlu media informasi tersebut.</p>
<p>Pelatihanpun dirancang bertempat di hotel selama tiga hari. Para penulis, yang kami tidak pedulikan siapa mereka, dikurung di hotel untuk menyelesaikan tulisan dengan panduan yang kami buat. Pelatihan ini tentu hanya pemutakhiran belaka dari draf yang ada. Kami reviu puluhan buku tersebut satu per satu. Kemudian masing-masing penulis harus mempresentasikan dan meyakinkan forum kenapa media informasi ini penting untuk kami baca.  Jika tulisan itu arahnya kemana-mana, maka mereka harus mengganti paragrafnya.</p>
<p>Setiap tulisan kami diskusikan dan debatkan. Kebanyakan gaya tulisan mereka begitu ilmiah dan padat teori. Sedangkan sasaran bukunya adalah para kepala dinas, bupati, dan walikota yang notabene tidak butuh teori yang tidak membumi. Kami tidak ingin menggurui karena mereka lebih paham. Apalagi mengingat deretan gelar di belakang namanya. Di akhir pelatihan mereka setidaknya berhasil menulis sebanyak 15 halaman dengan gaya penulisan populer versi mereka.</p>
<p>Sekarang giliran kami sebagai penyunting beraksi. Kami bagi tugas dalam tim. Saya kebagian menyunting 4 buku. Setelah dibaca, rupanya proses menyunting tidak semudah yang dikira. Dengan gaya penulisan akademis mereka, pekerjaan kami menjadi ganda. Membaca ulang, menyelami pemikiran mereka, dan yang paling berat adalah mengubah gaya penulisan yang berarti menulis kembali dari awal. Ini sebenarnya bukan tugas penyunting. Teman kami Dwi, menganalogikan tugas menyunting itu seperti ini, “Jika tulisan itu adalah mutiara, maka kami akan menggosoknya, membersihkan mutiara dari debu, lumut, dan kerak yang menempel sampai kemilau indahnya.” Rupanya kami salah. Kami harus membuat mutiara baru.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianmardiana.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianmardiana.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianmardiana.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianmardiana.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianmardiana.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianmardiana.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianmardiana.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianmardiana.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianmardiana.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianmardiana.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianmardiana.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianmardiana.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianmardiana.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianmardiana.wordpress.com/317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=317&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/12/11/belajar-dari-salah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/869e72f2d64131308630674f4f3ed1db?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianmardiana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Fasilitator: Kudu Peka Konflik</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/12/11/menjadi-fasilitator-kudu-peka-konflik/</link>
		<comments>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/12/11/menjadi-fasilitator-kudu-peka-konflik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 02:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianmardiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Advokasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[damai]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>
		<category><![CDATA[musrenbang]]></category>
		<category><![CDATA[Palu]]></category>
		<category><![CDATA[Poso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianmardiana.wordpress.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dian Mardiana PERSOALAN kelurahan rupanya bejubel dan pemerintah setempat belum mengambil tindakan nyata, terbendung peraturan desa dan daerah. Dari mulai sengketa lahan, berebut area dagang dengan pendatang/pengungsi dan sebagainya. Semua persoalan awalnya bisa ditoleransi dan diselesaikan melalui musyawarah kelompok kecil. Namun lama-lama persoalan menjadi besar dan kompleks. Kelurahan dan kecamatan kewalahan. “Inilah yang mengundang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=309&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#999999;"><strong>Oleh: Dian Mardiana</strong></span></p>
<p><span style="color:#428bdb;"><strong>PERSOALAN </strong></span>kelurahan rupanya bejubel dan pemerintah setempat belum mengambil tindakan nyata, terbendung peraturan desa dan daerah. Dari mulai sengketa lahan, berebut area dagang dengan pendatang/pengungsi dan sebagainya. Semua persoalan awalnya bisa ditoleransi dan diselesaikan melalui musyawarah kelompok kecil. Namun lama-lama persoalan menjadi besar dan kompleks. Kelurahan dan kecamatan kewalahan.</p>
<p>“Inilah yang mengundang konflik” seru kawan berperawakan tinggi. Namanya Gilbert Kaose, dari Pamona Poso. Gilbert adalah seorang Fasilitator musrenbang di Kelurahan. Konflik area dagang rupanya sedang ramai dibicarakan. Pada dasarnya konflik bukan hanya tentang rebutan lahan. Bayang-bayang perbedaan agama ada di belakang meja. Perencanaan kelurahan pun menjadi salah satu arena pertempuran penyelesaian sengketa. Butuh perjuangan yang tidak sebentar.<span id="more-309"></span></p>
<p>Tidak hanya itu. Konflik datang juga dari sengketa tanah yang tak kunjung redam. Banyak warga yang punya lahan di Kayamanya meninggalkan Tentena. “Waktu terjadinya kerusuhan, saya tinggalkan Tentena. Lahan saya percayakan pada tetangga,” ungkap Ampai. Tapi apa yang terjadi. Setelah kembali dari pengungsian, Ampai tidak bisa mengelola lahannya. Tetangga yang diberi kepercayaan merasa keberatan. Memang tidak ada surat resmi. Hal ini tidak terjadi pada Ampai seorang. Banyak warga yang mengalami hal yang sama.</p>
<p>Apa biang di balik sengketa ini. Beberapa kawan berpendapat bahwa perbedaan agama ditengarai yang mendasari timbulnya konflik. Konflik ideologi, begitu mereka kata. Apapun sengketanya, jika perbedaan masih tidak bisa diterima, bayang-bayang perang tetap ada. Untuk mengatasi hal ini, masyarakat tentu tidak bisa bergerak sendiri. Pemerintah harus turun. Caranya <em>yah</em> melalui arena-arena resmi seperti perencanaan kelurahan yang ditetapkan setiap tahun.</p>
<p><strong>Musyawarah Melalui Musrenbang</strong></p>
<p>Musrenbang kelurahan, begitu mereka mengenalnya. Musrenbang kelurahan adalah arena rembug warga yang difasilitasi pemerintah untuk perumusan program kelurahan satu tahun ke depan. Musrenbang ini dimanfaatkan pula untuk mengatasi persoalan warga kelurahan. Dari persoalan pertanian, pembangunan jalan, infrastruktur, sampai administrasi lahan yang saat ini digunjingkan banyak orang, seperti halnya di Pamona, Poso. Pada musrenbang tentu saja tidak satu masalah kelurahan saja yang dibahas. Banyak masalah ngantri di Daftar Skala Prioritas. Daftar skala ini dilakukan untuk mengalokasikan anggaran dalam merumuskan program yang menjadi persoalan utama di kelurahan. Karena berebut anggaran dan semua orang menganggap masalah masing-masing kelurahan itu penting, rupanya musrenbang ini pun menyulut konflik juga.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Perlu Fasilitator yang Mendamaikan </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Di luar berkonflik, di atas panggung musrenbang pun sama. Kehati-hatian mengungkapkan pendapat dan argumen dalam berdebat perlu diwaspadai juga. Perbedaan sekecil apapun jika tak hati-hati, bisa-bisa berujung pada kerusuhan massa. Bercermin pada kerusuhan Poso, Pembakaran rumah dan tempat ibadah bisa-bisaberulang. “Semua orang ketakutan” tambah Ampai, mengenang kejadian masa itu. Semua orang mengungsi termasuk dirinya sendiri. Saat kembali, Ampai saat ini aktif memfasilitasi musrenbang kelurahan di Kayamanya, Poso Kota.</p>
<p>Seorang fasilitator perlu peka dengan apapun yang menyulut konflik. Yang ditakutkan adalah konflik yang berujung pada kekerasan dan kerusuhan. Perselisihan yang bisa ditoleransi justru baik untuk dinamika proses dan membuat orang lebih terbuka. Selamat berkonflik!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianmardiana.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianmardiana.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianmardiana.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianmardiana.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianmardiana.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianmardiana.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianmardiana.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianmardiana.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianmardiana.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianmardiana.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianmardiana.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianmardiana.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianmardiana.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianmardiana.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=309&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/12/11/menjadi-fasilitator-kudu-peka-konflik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/869e72f2d64131308630674f4f3ed1db?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianmardiana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menonton Video IMD</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/09/29/menonton-video-imd/</link>
		<comments>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/09/29/menonton-video-imd/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 04:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianmardiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianmardiana.wordpress.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dian Mardiana EMPAT puluh minggu sudah, aku menantimu. Demi kau anakku. Hari ini aku sakit dan nyeri dan saat terdengar pecahnya nyaring tangismu, bahagia mengisi relung kalbuku. Mari sini nak, kudekap erat kamu. Ketika dilahirkan bayi memiliki naluri untuk mencari sumber kehidupannya. Yang dibutuhkan hanyalah sentuhan kulit antara bayi dan ibunya dalam satu jam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=295&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#888888;"><strong>Oleh: Dian Mardiana</strong></span></p>
<p><em><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/09/gambar-1-imd.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-296" title="Gambar 1 IMD" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/09/gambar-1-imd.jpg?w=700" alt=""   /></a><span style="color:#993300;"><strong>EMPAT </strong></span>puluh minggu sudah, aku menantimu. Demi kau anakku. Hari ini aku sakit dan nyeri dan saat terdengar pecahnya nyaring tangismu, bahagia mengisi relung kalbuku. Mari sini nak, kudekap erat kamu.</em></p>
<p><em>Ketika dilahirkan bayi memiliki naluri untuk mencari sumber kehidupannya. Yang dibutuhkan hanyalah sentuhan kulit antara bayi dan ibunya dalam satu jam setelah kelahirannya. Penelitian membuktikan Inisiasi Dini Menyusu dalam satu jam kelahirannya meningkatkan keselamatan jiwa si bayi dan mendorong keberhasilan pemberian ASI selanjutnya. Begitu lahir, bayi cukup di lap hingga bersih. Dan tanpa dibedong langsung diletakan di perut atau dada ibunya. Biarkan bayi tengkurap sehingga terjadi sentuhan antara kulit perut atau dada ibu dan bayi dan refleks merangkak dan menyusu terjadi 20 hingga 50 menit kemudian. Sentuhan kulit ibu dan bayi akan menjaga suhu bayi dan menghangatkannya saat berusaha mencari puitng susu ibu. Sungguh suatu momen yang sangat menakjubkan ketika akhirnya bayi berhasil menemukan putting susu ibunya dan mulai menyusu. Dia akan segera mereguk kolostrom yang sangat berharga. Kolostrom atau susu pertama ibu yang berwarna kekuningan mengandung zat-zat penting untuk kekebalan tubuh bayi. Sentuhan mulut bayi dan putting itu juga merangsang produksi ASI dan melatih bayi menyusu serta mempererat kasih sayang ibu dan belahan hatinya. Sungguh menakjubkan. Mendekap dan membiarkan bayi menyusu dalam satu jam kelahirannya. Meningkatkan kelangsungan hidup si bayi. (Bayi Amelia, Klaten 13 Agustus 2007. Diunduh dari youtube.com didukung oleh Bakti Husada dan Unicef)</em></p>
<p>Pemutaran video Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terbukti mematahkan banyak mitos tentang ASI dan bayi. Mitos bahwa ASI tidak dapat keluar sebelum dua minggu dari kelahiran adalah kesalahan besar yang bisa dibuktikan secara alamiah pula ilmiah. Tidak hanya itu, pengetahuan warga pun lalu ikut berubah.<span id="more-295"></span></p>
<p>Pemutaran video IMD ini dilakukan di dua kampung, yaitu kampung Cipeundeuy dan Salamitan Tasikmalaya pada saat yang bersamaan (14/7). Tontonan yang berhasil memukau para penonton ini bukan sembarang film. Bukan pula, tontonan yang menghibur di waktu senggang. Melainkan, ketika tontonan ini membuat warga melek terhadap isu kesehatan artinya literasi warga Tasikmalaya meningkat.</p>
<p>Peningkatan literasi pada sesi ini termaktub dalam beberapa tahap. Warga tidak lagi diajari mengeja dan membaca kata. “Sudah pada bisa,” begitu cetus kader tentang belajar baca dan tulis. Hanya saja, pengetahuan memahami dan memaknai teks itu kurang. Mereka tidak biasa, tidak pula akrab dengan buku bacaan. Mereka terlalu sibuk bertani, kerja di pabrik, atau <em>mengelim</em> dan menjahit.</p>
<p><strong>Membaca Teks Singkat </strong></p>
<p><em><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/09/gambar-2-imd.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-297" title="Gambar 2 IMD" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/09/gambar-2-imd.jpg?w=700" alt=""   /></a>“</em>Ibu-ibu<em> aya nu teurang hartosna </em>IMD<em>?” </em>tanya kader mengawali diskusi. Rupanya pertanyaan ini menyulut banyak suara. Warga belajar yang semuanya ibu-ibu Kampung Cipeundeuy Tasikmalaya itu ramai menjawab. “Inisiasi Menyusui Dini” ungkap mereka.</p>
<p>Amin, sang tutor, lalu meminta salah satu warga belajar untuk membaca paragraf tentang definisi IMD yang lebih lengkap. Namun, sepertinya mereka tahu betul IMD. Beberapa orang bahkan memaparkan panjang lebar ikut menjelaskan arti IMD lengkap dengan manfaatnya. Sayangnya, saat ditanya siapa yang sudah mempraktekan IMD, suara-suara itu mendadak diam.</p>
<p>Bisa dimaklumi, di setiap pengetahuan baru, muncul juga tantangan baru. Tutor cepat tanggap. Setiap warga belajar dipilih acak. Mereka secara bergantian diminta untuk baca satu paragraf.</p>
<blockquote>
<p style="padding-left:30px;"><em>Inisiasi dini juga berlaku untuk bayi yang lahir dengan cara sesar, vakum, kelahiran tidak sakit atau episiotomi. Hanya peluang untuk menemukan sendiri puting ibu akan berkurang sampai 50%. Ini juga berlaku untuk bayi yang begitu lahir dipisahkan untuk ditimbang, disinar, dan lain-lain.</em></p>
</blockquote>
<p>Kenyataannya, memang IMD belum sepenuhnya dipraktekkan di Kampung ini. Padahal, banyak sumber menyebutkan bahwa dalam keadaan apapun, ibu bisa menyusui anaknya. Paragraf inilah yang dibaca keras oleh warga belajar. Mereka membaca bergantian dengan teks yang berbeda-beda.</p>
<p>Dari proses membaca teks ini, bisa dilihat ada dua hal yang saling berhubungan yaitu pengetahuan ibu-ibu tentang IMD dan budaya baca akan isu IMD. Keterkaitan antara dua hal ini terjadi secara timbal balik. Pertama, kurangnya penerapan IMD bisa jadi karena kurangnya budaya baca atau sebaliknya. Kedua, terbatasnya akses informasi kesehatan karena wilayah sulit dijangkau menyebabkan warga tidak paham IMD. Ketiga, sudah membatunya mitos-mitos yang berkaitan dengan isu kesehatan yang diyakini warga karena kurangnya literasi dan daya kritis warga belajar. Kalau begini, budaya belajar harus mulai dibangkitkan lagi. Saatnya menjadi pintar.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Tulisan ini adalah hasil kerja sama Sumbangsih Nuansa Indonesia Tasikmalaya (SNIT), Studio Driya Media (SDM) Bandung, dan Sentra Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (SPPM) dengan dukungan dana dari Asia-Pasific Cultural Centre for UNESCO (ACCU) dan ASIENCE (Kao Corporation) Japan<strong>.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianmardiana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianmardiana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianmardiana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianmardiana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianmardiana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianmardiana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianmardiana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianmardiana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianmardiana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianmardiana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianmardiana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianmardiana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianmardiana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianmardiana.wordpress.com/295/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=295&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/09/29/menonton-video-imd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/869e72f2d64131308630674f4f3ed1db?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianmardiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/09/gambar-1-imd.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 1 IMD</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/09/gambar-2-imd.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 2 IMD</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaum Perempuan, [Bukan] Orang Rumahan</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/08/20/kaum-perempuan-bukan-orang-rumahan/</link>
		<comments>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/08/20/kaum-perempuan-bukan-orang-rumahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 10:35:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianmardiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianmardiana.wordpress.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dian Mardiana Mengapa tanahku rawan ini Bukit bukit telanjang berdiri Pohon dan rumput enggan bersemi kembali Burung-burung pun malu bernyanyi Kuingin bukitku hijau kembali Semenung pun tak sabar menanti Doa kan kuucapkan hari demi hari Kapankah hati ini kapan lagi Lagu nge-tren penyanyi Gombloh Berita Cuaca di era 80an sepertinya cocok untuk menggambarkan berita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=287&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#888888;"><strong>Oleh: Dian Mardiana</strong></span></p>
<p><em>Mengapa tanahku rawan ini<br />
Bukit bukit telanjang berdiri<br />
Pohon dan rumput enggan bersemi kembali<br />
Burung-burung pun malu bernyanyi</em></p>
<p><em>Kuingin bukitku hijau kembali<br />
Semenung pun tak sabar menanti<br />
Doa kan kuucapkan hari demi hari<br />
Kapankah hati ini kapan lagi</em></p>
<p>Lagu <em>nge</em>-<em>tren</em> penyanyi Gombloh <em>Berita Cuaca </em>di era 80an sepertinya cocok untuk menggambarkan berita alam di daerah Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Banyak harapan yang harus diperjuangkan terkait dengan tanah dan lahan pertanian. Tentunya semua asa dan perubahan ini tidak bisa dilakukan hanya dengan mengangkat tangan dan memohon doa belaka.</p>
<p><span id="more-287"></span>Butuh gagasan gila membuat perubahan di Kabupaten Gunungkidul. Lahan gersang, kering, berbatu kapur adalah tantangan alam bagi masyarakat di wilayah seluas <strong> </strong>1.485,36 km<sup>2</sup> ini. Tambah lagi, telah terjadinya gempa tepatnya tanggal 27 Mei 2006 membuat was-was para penduduknya. Sebagian tetap bertahan, tinggal di lahan bertanah tandus. Sebagian merantau mencari keberuntungan di tanah orang. Di pulau-pulau besar seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, sampai Papua, mereka bertandang.</p>
<p>Merantau bagi penduduk di Kabupaten Gunungkidul adalah hal biasa. Mencari untung di wilayah lain bukan untuk menjadi kaya, tapi agar keluarga yang ditinggalkan bisa tetap bertahan hidup. “Saya sudah kemana-mana, dari Jakarta, Papua bahkan sampai ke Taiwan.” Jelas Sutarmi, salah satu penduduk Desa Semoyo, Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul. Mengandalkan dari pertanian saja memang tidak ada cukupnya. Bukan hanya Sutarmi, Maryanti, saudaranya pun sempat melanglang buana dari satu tempat ke tempat lain. Jangan tanya, tapi inilah sebuah potret kehidupan kala alam tidak lagi menunjang. Sutarmi dan Maryanti bukanlah wanita yang mudah patah arang. Pulang dari perantauan, mereka berbekal semangat untuk membuat perubahan di Desa Semoyo.</p>
<p>Desa Semoyo ini berada di kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul. Sebelum tahun 2006, saat terjadinya gempa tektonik, lahan di dusun Salak ini tidak terlalu kering. Begitupun di beberapa dusun lainnya. Air banyak mengalir mengairi ladang, untuk minum ternak, dan memenuhi kebutuhan warga. Namun setelah gempa, kekeringan sering kali terjadi, banyak pundi-pundi air rusak, dan sumber air tertimbun rapat. Dikenallah kecamatan Patuk sebagai satu dari delapan kecamatan rawan air. Inilah saat-saat mereka bangkit dan memperbaiki desa menjadi lebih baik.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Membentuk Kelompok Pembaharu</strong></p>
<p>Berkerudung menutup dada, berperawakan tinggi dengan punggung sedikit membungkuk, dia mengarit rumput. Tampak di wajahnya bercucur keringat. Kedua tangannya melipat, menggenggam jerami, daun, dan rerumputan. Di belakang rumah, sederetan sapi menunggu makan siang. “Paling repot kalau tidak ada suami, semua saya lakukan sendiri” ujarnya sekali-kali sambil mengusap keringat di dahinya.</p>
<div id="attachment_288" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/dsc01244.jpg"><img class="size-medium wp-image-288" title="DSC01244" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/dsc01244.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Disela-sela kesibukannya mengarit rumput dan mencari pakan ternak, Sutarmi menyempatkan diri berorganisasi.</p></div>
<p>Semua kegiatan itu menjadi keseharian perempuan perantau ini dalam membantu ekonomi keluarga. Meskipun begitu, mengurus keluarga, ladang, dan ternak bukanlah benteng besar yang membendung usahanya berorganisasi. Setiap tiga sampai enam bulan sekali ibu dari tiga anak ini berkumpul dengan para aktifis petani desa, laki-laki dan perempuan, anak muda sampai usia senja. Mereka hendak mengikuti workshop-workshop dengan tema pertanian dan peternakan, dari mulai penanganan lahan kritis, air, pemetaan lahan, inventarisasi pohon dan pembuatan pakan ternak. Semua itu dilakukan agar ekonomi warga desa menjadi lebih baik. Komunitas petani ini bernama Kelompok Serikat Petani Pembaharu (SPP) Desa Semoyo.</p>
<p>SPP Desa Semoyo sendiri sudah terbentuk sejak Sutarmi tinggal di desa itu. “Dulu namanya MPP, Masyarakat Peduli Petani, sekarang berubah jadi SPP” jelasnya. SPP ini terbentuk dari keprihatinan kelompok petani di desa semoyo atas kondisi ekonomi. Tentu saja, kita bisa melihat bahwa terbentuknya komunitas petani di desa adalah salah satu bentuk penyadaran. Bahwa bergerak secara individu tidak akan berhasil. Membentuk komunitas adalah cara efektif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan ekonomi sosial di suatu daerah.</p>
<p>“Anggotanya yah seluruh petani Desa Semoyo” ungkap Sutarmi menjelaskan anggota kelompok petani itu.  Penduduk desa semoyo di pusat data Kabupaten Gunungkidul tercatat 718 kepala keluarga dengan mata pencaharian sekitar 90% adalah petani. Sayangnya, setiap kali ada workshop untuk pengembangan kapasitas para petani, hanya 30-80 orang di setiap pertemuannya yang terdiri dari para ketua RT, dukuh, sesepuh, dan masyarakat setempat. “Dari segitu orang itu yang nyambung cuma beberapa orang saja.” Ungkap Sutarmi sembari menjelaskan betapa sulit mengumpulkan teman-teman untuk berembug tentang persoalan desa.</p>
<p>Sebagian para petani menganggap bahwa kumpul-kumpul, berdiskusi dan membuat gagasan baru untuk perubahan desa adalah buang-buang tenaga. Mereka menganggap bahwa pergi ke ladang, mengolah lahan dan mengurus ternak lebih bermanfaat dan lebih bisa menghasilkan uang. Mungkin inilah tantangan besar SPP dalam menyamakan gagasan dan merubah pola pikir warga setempat.</p>
<p>Menariknya, beberapa pegiat perempuan SPP punya pendapat yang berbeda. Berkumpul, diskusi, dan berbagi ide bukan lagi urusan kaum lelaki. Tahun 2008, Sutarmi dan para perempuan SPP Desa Semoyo bergabung dengan Jaringan Kelompok Perempuan Gunung Kidul (JKPGK). Setiap tiga bulan sekali dia berkumpul dengan geng aktifis perempuan dari desa-desa dan kecamatan lain di Kabupaten Gunungkidul. Apa yang dibicarakan? tidak lain adalah persoalan-persoalan sosial ekonomi yang dihadapi di desa masing-masing. “Semuanya hanya duduk dan mengeluarkan keluhan masing-masing” ujar Sutarmi sesekali menjelaskan betapa mudahnya berkumpul dan menyelesaikan masalah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bibit dan Pupuk yang Utama </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Petani mana yang tidak butuh bibit dan pupuk. Jika kedua kebutuhan dasar ini mahal, siapa yang rugi. Yang jelas yah petani. Tak ada bibit maka tidak ada produksi. Tidak ada pupuk maka hasil tidak memuaskan bahkan mungkin terjebak gagal. Tidak ada hasil, bagaimana petani bisa hidup. Persoalan ini memang kerap terjadi kepada para petani. Dari tahun ke tahun ada saja persoalannya. Kadang-kadang pupuk dan bibit mahal, tidak ada subsidi dari pemerintah. Jika ada, maka terlambat masa tanamnya.</p>
<p>Rupanya, persoalan ini tidak dibiarkan begitu saja. Bukan hanya SPP, para perempuan yang tergabung dalam JKPGK dari berbagai desa ikut pula mengadvokasi persoalan ini. Mereka berkumpul, duduk dan diskusi. Semua orang mengutarakan keluhannya mewakili desa masing-masing. Tentu saja dari semua yang diutarakan ada benang merah yang bisa ditarik. Ternyata persoalan mereka sama, yaitu menyoal pertanian, harga bibit dan pupuk, lahan kering, dan sejumlah persoalan tani lainnya.</p>
<p>Dengan bantuan dari IDEA, salah satu lembaga swadaya masyarakat di Yogyakarta, mereka bersama-sama memetakan masalah. “Yah persoalan pertanian bisa disangkutkan dengan dinas pertanian, Bappeda, dan legislatif” kata aktifis perempuan ini yang banyak memposisikan dirinya sebagai bendahara di organisasinya. Memetakan masalah membantu mereka menyelesaikan persoalan. Dari persoalan tani saja, mereka dengan mudah mengkoordinasikannya dengan dinas pertanian, perencanaan anggarannya bisa ke Bappeda, dan urusan kebijakan bisa ke badan legislatif daerah. “sekarang soal bibit dan pupuk sudah bersubsidi” ujar Purwanti pada salah satu diskusi.</p>
<p>Dari sini bisa terlihat betapa mereka menikmati hasil dari berorganisasi dan membentuk komunitas. Usulan dan ajuan pun melayang ke meja kelurahan, kecamatan, bahkan langsung ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan persoalan bisa diselesaikan.</p>
<p>“Terkait pupuk, bibit, melalui audiensi langsung ke Bappeda alhamdulilah setiap musim tanam itu ada sedikit bibit, pupuk, biarpun mungkin tidak banyak tapi ada” ujar Suci Istami, ketua JKPGK. Bukan cuma pupuk dan bibit saja yang ditindaklanjuti, Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) kerap dilaksanakan sebagai upaya peningkatan kapasitas petani.</p>
<p>Setelah satu ajuan berhasil, semangat para aktifis tidak hanya sampai di sini. Kegelisahan atas lahan kritis dan kemunduran ekonomi warga mendorong mereka bangkit. Seperti halnya kalimat bijak yang sering didengungkan, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit”, melalui banyak diskusi, kelompok petani pembaharu ini mengundang dinas dan memantapkan cita-citanya dengan mencetuskan ide Desa Semoyo sebagai Desa Kawasan Konservasi. Ide ini seperti gayung bersambut. Tepatnya tanggal 18 Agustus 2007, Desa Semoyo ditetapkan Bupati Kabupaten Gunungkidul sebagai Desa Kawasan Konservasi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Lahan Kering Tidak Jadi Soal </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mungkin bagi sebagian orang kejadian gempa bisa membuat trauma. Tapi tidak untuk para pembaharu di desa ini. Desa yang berpenduduk 2731 jiwa ini semakin dikenal namanya. Dulu dikenal karena lahan kering yang tidak potensial akibat gempa, sekarang namanya melejit menjadi desa kawasan konservasi. Lahan-lahan kering bukan lagi jadi persoalan. Pohon-pohon yang ditanam disesuaikan. Di sepanjang lahan pertanian, terbentang ubi kayu begitu luas, begitu pun dengan pohon-pohon tertancap tajam di lahan tandus. Jika diamati, rupanya semua pohon ini punya karakter yang sama, tidak rakus air.</p>
<p>Inilah upaya pelestarian alam dimana pepohonan, tanaman dan warga petani beradaptasi. Kerusakan hutan memang harus dicegah, “toh itu gara-gara manusia sendiri.” Ungkap Sutarmi memahami bahwa alam rusak hanyalah dampak perbuatan manusia. Umumnya para petani di daerah lain, berharap hasil tani yang melimpah. Mereka tak segan-segan menggunakan pupuk pabrik dengan iming-iming buah yang meruah. Tahun demi tahun pupuk itu digunakan, secara tak sadar, ini pula yang berkontribusi pada rusaknya komposisi tanah di desa Semoyo.</p>
<p>Kesadaran ini semakin kuat. Mencanangkan program penanaman tanaman lokal menjadi salah satu upaya pemulihan lingkungan. “Yah caranya dnegan menanam tanaman tidak rakus air.” Celetuknya. Tanaman tidak rakus air diantaranya ubi kayu, ubi jalar, pisang, alpukat, rambutan, nangka, jambu biji, durian, sukun, dan salak yang biasa ditemukan di daerah Kabupaten Gunungkidul terutama di kawasan bertanah kering. “Semua itu biar hutan menjadi lestari, tanaman tidak punah” jelas perempuan yang biasa ke ladang ini.</p>
<p><strong>Gagal di Kelurahan, Terbuka di Dewan</strong></p>
<p>Sejak dicanangkannya tahun 2007, desa kawasan konservasi ini pun mulai banyak mengadakan berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan. Belum juga tiga tahun, tapi ketenarannya melebihi tahun ditetapkannya. Saat ini sedang berjalan program hutan lestari di desa rawan air ini. Setiap petani melakukan inventarisasi pohon. Kegiatan dilakukan dari mulai menghitung jumlah pohon, menghitung diameter dan ketinggian pohon. Bahkan, ditentukan pula jumlah pohon jatah tebang.</p>
<p>Program ini sekarang memang sedang berjalan. Awalnya ada penolakan-penolakan dari aparat kelurahan. Awal mulanya mereka diajak diskusi tapi akhirnya malah bersikap apatis dan penuh curiga. Padahal, aparat pemerintah diharapkan lebih peka dengan adanya kerja sama program. Selama program itu tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah dan untuk kebaikan publik, seluruh kerja sama program adalah sah dan bisa dijalankan. Dengan cara inilah sebuah desa bisa melangkah lebih maju.</p>
<p>Bukan hanya itu, sebelumnya ada banyak persoalan pertanian yang lamban ditangani oleh pihak aparat desa. Persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat tidak lagi bisa dikompromikan melalui aparat setempat. Tidak segan-segan para perempuan dan aktifis lainnya lalu berani menghadap dewan. Pertama mereka mulai berembug membentuk tim kecil merumuskan peta masalah lalu dibuatlah surat permohonan yang ditujukan kepada kepala dinas.</p>
<p>Bagi sekelompok perempuan di desa tersebut, tentu saja pengalaman menemui kepala dinas bukanlah hal kecil. Sempat pula detak jantungnya berdebar kencang. Ini kali pertama mereka menerobos masuk ke kantor dinas. Surat permohonan audiensipun masuk ke ruang kesekretariatan. Sepertinya surat itu berbalas audiensi. Dalam beberapa saat, merekapun diajak masuk dan berdialog. Diskusi berjalan begitu mulus. Para perempuan satu-satu menyampaikan aspirasinya. Dilengkapi pula, selembar kertas dengan tulisan yang sederhana. Tulisan itu adalah peta masalah. Awal baik untuk tetap bisa menangkap bola.</p>
<p><strong>Pendekatan Personal Lebih Efektif </strong></p>
<p>Senyumpun menghiasi wajah para aktifis perempuan itu. Perasaan lega dan bahagia tampak jelas di wajah mereka. Pelan-pelan, mereka pun mempelajari cara membaca anggaran pada dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Membuka dokumen setebal jengkal tangan dan membaca sederetan angka-angka tidaklah mudah. Butuh ketelatenan dan motivasi kuat untuk memahami pembagian kue di setiap kolomnya.</p>
<p>Jangan salah, ini pula yang membuat decak kagum dari kaum laki-laki terutama pihak Bappeda. “Saat itu ada ibu-ibu menyampaikan aspirasinya ke dewan. Lalu, pada tahun berikutnya barulah mereka dilibatkan. Di LPJ (Laporan Pertanggungjawaban –red) Bupati, mereka sudah masuk dan kaum perempuan itu harus dilibatkan aktif, aktif dalam proses perencaan pembangunan” ungkap mantan kepala Bappeda, Eko Subiantoro yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Dewan DPRD Gunungkidul.</p>
<p>Tahun 2005 kaum perempuan yang tergabung dengan JKPGK itu sudah mulai bergerak. Mereka mengutarakan apa yang mereka temukan di lapangan baik itu di pertanian, masalah air, ataupun infrastruktur. Ada dua cara yang ditempuh, secara prosedur administrasi dan secara personal. Membangun komunikasi lewat telepon dan sms pun dijalin dengan intensif. Cara ini pulalah yang mendekatkan proses aspirasi warga terutama kaum perempuan dalam perencanaan pembangunan. Laki-laki berperawakan tinggi gemuk inipun mengungkapkan bahwa pihak pemerintah sangat mendukung. Mereka mengakui bahwa yang dilakukan kaum perempuan ini sangat membantu dalam proses penanganan kemiskinan di Kabupaten Gunungkidul.</p>
<p>Dukungan pihak Bappeda ini tentu saja membuat lega para aktifis. Mereka sudah tidak lagi ragu dengan peranannya dalam mengatasi persoalan sosial ekonomi daerah. “Khusus untuk pertanian langsung ke dewan terus minta waktu untuk audiensi, sampai saat ini ada hubungan baik dengan Bappeda, setiap ada pertemuan penting di Kabupaten, JKPGK diundang.” cetus Suci Istami bersama kaum perempuan lainnya dengan senyum diwajah mereka, bangga.</p>
<p><strong>Melibatkan Akar Rumput dalam Perencanaan Partisipatif</strong></p>
<div id="attachment_289" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/dsc01249.jpg"><img class="size-medium wp-image-289" title="DSC01249" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/dsc01249.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sunarjo dan para aktifis Jaringan Kelompok Perempuan Gunungkidul sedang mendiskusikan persoalan-persoalan yang pernah dibahas dalam musrenbang.</p></div>
<p>Kunci pemetaan masalah sebetulnya ada pada perencanaan keuangan. Perencanaan keuangan di desa ini dilakukan dalam proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan, biasa disebut Musrenbang. Musrenbang ini seperti ritual terjadi setiap tahun. Namun, pentingnya ritual ini tentu saja berdampak besar bagi akar rumput. Dalam prosesnya setiap perwakilan masyarakat yang diundang sebagai peserta mengajukan beberapa usulan. Usulan ini tentu saja berkaitan dengan persoalan yang tengah dihadapi di lingkungannya masing-masing. Misalnya, rusaknya lahan pertanian, terbatasnya bibit-bibit lokal yang berkualitas, lemahnya pemahaman petani tentang konsep benih unggul, terbatasnya ketersediaan pupuk alami dan sebagainya. Setiap persoalan ini kemudian dijabarkan dalam bentuk angka nominal sebagai alokasi dana untuk mengatasi masalah tersebut.</p>
<p>Lalu, usulan ini akan dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Hasil musrenbang desa dibawa ke musrenbang kecamatan, dari kecamatan ke forum Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) barulah kemudian dibawa ke musrenbang kabupaten. Nah di kabupaten diolah dan anggaran pun disesuaikan dengan APBDnya. Dari proses inilah bisa dibayangkan betapa setiap masyarakat dari setiap desa dan kecamatan berebut agar usulannya berhasil. Semua orang bisa saling meyakinkan bahwa usulan sangat penting dan perlu dilaksanakan.</p>
<p>“Dari musrenbang ini memang kita banyak kegiatan tapi kemampuan keuangan kita serba terbatas. Persoalannya bukan karena uangnya <em>nggak</em> ada, tapi duitnya itu 70% habis untuk pegawai, 30% <em>kan</em> masih ada, masa <em>nggak</em> bisa apa-apa.” Jelas Eko menekankan bahwa perencanaan itu penting dan harus sesuai dengan kebutuhan warga. Uang yang sedikit, sekitar 30% dari APBD itu memang harus diperjuangkan. Apa jadinya nanti, sudah sedikit, kebutuhan warga ditentukan legislatif, sudah begitu tidak berguna pula bagi rakyat. Dengan demikian, menentukan skala prioritas dan memetakan kebutuhan warga memang harus dari warganya sendiri. Itulah kenapa suara dari akar rumput harus diperjuangkan dan partisipasi warga ditingkatkan.</p>
<p>Kaum perempuan tidak ketinggalan. Saat ini ada sedikit perubahan paradigma. Dulu, para perempuan Gunungkidul jarang sekali terlibat dalam proses pembangunan desa. Jangankan terlibat, memberikan pendapat saja tidak. Mereka melulu disibukkan dengan urusan sumur, kasur, dan dapur. Sebagai tambahan, mereka paling tidak membantu suami di ladang, tanam padi. Namun, sekarang paradigma pun bergeser. Dengan adanya keterlibatan kelompok-kelompok perempuan, proses persoalan sosial menjadi sedikit lebih mudah diselesaikan, terutama menyangkut pelayanan-pelayanan untuk kaum perempuan. Karena itu, tidak segan-segan mereka hadir dan memberi usulan dalam proses musrenbang.</p>
<p>Proses musrenbang terbuka bagi siapa saja. JKPGK misalnya, selalu diundang disetiap musrenbang. Tahun ini saja, kaum perempuan aktif dalam mengusulkan peningkatan pelayanan publik terutama menyoal pelayanan kesehatan. Maryanti, pengusaha perempuan sekaligus orang tua tunggal bagi anaknya tidak merasa kalau terlibat dalam musrenbang adalah beban. Padahal dia begitu sibuk dengan usaha ceriping yang ditekuni beberapa tahun lamanya. Pula, tidak ketinggalan mengurus anak-anaknya dan menjadi tulang punggung keluarga. Baginya, usulan pada musrenbang adalah penting untuk kemajuan warga di lingkungannya. “Pas musrenbang saya usul tentang rumah sakit. Pelayanannya kurang memuaskan. Kalau orang datang sakit itu kiranya cuma orang desa, gak bersih gak pake mobil seakan kami tidak ada tempat,” ucapnya ketus mengesalkan pelayanan salah satu rumah sakit negeri yang seharusnya melayani publik dengan baik.</p>
<p><strong>Radio Komunitas: Alternatif Sosialisasi Proses Advokasi</strong></p>
<p>Nongkrong di 107.7 FM Gunungkidul, sekitar jam 6 pagi, radio itu sudah mulai beroperasi. Dimulai dari lagu-lagu pop, kerongcong sampai rock n roll berdendang kencang tak henti. Bahkan sebagian warga petani mulai menyukai saluran radio ini. Di sela-sela lagu, di putar iklan layanan masyarakat tentang mengolah pakan ternak, mengolah limbah ternak, sampai sosialisasi musrenbang.</p>
<div id="attachment_290" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/dsc01202.jpg"><img class="size-medium wp-image-290" title="DSC01202" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/dsc01202.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sutarmi, petani sekaligus operator radio komunitas, mengatur lagu-lagu dan rekaman siaran yang akan diputar, kamis 15 April 2010.</p></div>
<p>Setiap hari Sutarmi, petani sekaligus operator radio komunitas Radekka (Radio Desa Kawasan Konservasi) 107.7 FM menyalakan komputer dan mengaktifkan seluruh perangkat radio. Dia mengatur lagu-lagu apa saja yang akan diputar, iklan layanan masyarakat pun diaturnya di sela-sela lagu agar pendengar tidak merasa bosan. Tidak ada penyiar. Semua dilakukan dengan rekaman. Rekaman itu disimpan dalam satu <em>file</em> lalu diputar setiap hari secara bergantian. Dia pun lalu pergi ke ladang membawa radio kesayangan. Radio itu dibawanya untuk memastikan pengaturan pada perangkat radio berjalan baik. “Yah, sesekali tanam padi bawa radio juga, biar <em>gak</em> kesepian, ada temannya, sekalian biar <em>gak</em> ketinggalan informasi juga,” tambahnya sambil tertawa.</p>
<p>Radio komunitas inilah yang menjadi salah satu media untuk menyebarkan gagasan kaum perempuan Gunungkidul. Menghimbau masyarakat agar terlibat dalam proses musrenbang adalah satu cara advokasi yang dilakukannya melalui iklan layanan masyarakat.</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>“Wonten ing musrenbang kito dipun paring wekdhal kagem nyampeaken kabethahan-kabethahan warga masyarakat ingkang berkaitan kaliyan pemenuhan hak-hak dasar wargo. Pangangen-angen JKPGK wonten ing musrenbang supadhos APBD Kabupaten Gunungkidul sagetho berpihak dumatheng wargo masyarakat.”</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em> </em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em> “Di dalam musrenbang kita diberi waktu untuk menyampaikan kebutuhan-kebutuhan warga masyarakat yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak dasar warga. Harapan JKPGK dalam musrenbang supaya APBD Kabupaten Gunungkidul bisa berpihak pada warga masyarakat” (Rekaman siaran Suci Istami, Ketua JKPGK, dalam sosialisasi musrenbang)</em></p>
<p>Tidak pernah terlewat. Rekaman itu disetelnya setiap hari. “Supaya jadi pembelajaran,” jelas operator radio komunitas ini, bersemangat. Rupanya Radekka bukan umumnya radio di Yogyakarta. Semua pesan yang diputar radio ini pasti menyangkut tentang persoalan-persoalan yang sering dihadapi komunitas. Bisa saja kita sebut radio akar rumput. Karena warga desa semoyo sebagian besar adalah petani, maka pesan-pesannya tidak jauh dari pertanian, peternakan, produksi hasil, dan partisipasi warga dalam pembangunan desa.</p>
<p>Persepsi petani desa Semoyo tidak semuanya sama dan sependapat. Dari namanya saja bisa terlihat bahwa radio ini diperuntukan terutama bagi warga desa semoyo. Tapi, semua petani umumnya sibuk ke ladang. Tidak seperti Sutarmi yang selalu membawa radio kala tanam padi, banyak pula petani yang menganggap radio komunitas ini kurang penting. Mereka sendiri merasa kurang memiliki, tidak sempat bawa radio ke ladang dan menyetelnya, apalagi bersiaran. Bahkan ketika kaum perempuan bersiaran dan bersosialiasi tentang perencanaan partisipasipun, sampai saat ini belum ada tanggapan dari warga, baik positif maupun negatif. Evaluasipun belum terlihat. Maklum saja, kaum perempuan ini bersiaran 3 bulan sekali. Meskipun rekamannya diulang-ulang setiap hari, belum saja ada warga setempat yang menengok atau ingin terlibat dalam program kaum perempuan.</p>
<p><strong>Kaum Perempuan: Berani Bersuara untuk Rakyat</strong></p>
<p>Berani Berkomunikasi. Inilah kata yang berulang-ulang diucapkan Sutarmi. Rupanya kaum perempuan saat ini bukan lagi kaum yang terpinggirkan. Mereka berhak menyuarakan pendapatnya juga berhak didengar. Berkelompok dan membentuk komunitas perempuan bagi seorang Sutarmi adalah sebuah kepuasan luar biasa. Menyumbangkan pikiran dan gagasan untuk kepentingan rakyat adalah hal yang harus dilakukan. Semua ini dia lakukan dengan senang hati. Mengurus rumah tangga, mengelola lahan pertanian, dan aktif di lingkungan sosial merupakan awal dari perubahan besar. “Saya ingin desa kita maju,” begitulah ungkap perempuan 42 tahun ini.</p>
<p>“Saya sudah bisa berkomunikasi dari tingkat RT, RW, perangkat-perangkat sampai ke Dewan,” tegasnya dengan nada meninggi. Salah satu contoh aspirasi yang disampaikannya adalah tentang SPP saat ini sudah punya kelompok-kelompok tani. Gagasan pun mengalir seiring dengan banyak kendala yang dihadapinya. Salah satu gagasan ibu kelahiran Batu Warno ini adalah membentuk bank komunitas agar para petani tidak terjebak dengan bank plecit, sebuah bank swasta yang dikelola individu dengan bunga sebesar 20%. Ide inilah yang sekarang diusung Sutarmi dan kaum perempuan desa lainnya.</p>
<p>Idenya didukung oleh banyak perempuan. Maryanti contohnya. Perempuan petani sekaligus pengusaha ini membenarkan juga bahwa petani memang harus berubah. Petani bukan lagi orang kecil yang terpinggirkan dan suaranya tidak didengar. Jika membentuk bank komunitas adalah jalan efektif, bank ini bisa jadi adalah contoh bank yang berasal dari petani sendiri, dikelola oleh petani sendiri, dan hasilnya untuk petani.</p>
<p>Gagasan besar di atas adalah salah satu contoh kepedulian kaum perempuan atas persoalan ekonomi warga. Pemikiran ini pula yang menjadikan mereka berani bersuara untuk rakyat dan pembangunan desa agar menuju ekonomi sejahtera. Tentu saja, selain ide itu disampaikan di dewan, mereka pun bergegas mengusung ide-idenya dalam musrenbang. Bagaimana cara agar idenya berhasil? Pelaksanaannya diatur dari dua arah: lewat musrenbang, juga disampaikan ke dewan.  “Maka solusinya adalah eksekutif dan legislatifnya yang didekati, dialog antara Bappeda, dinas-dinas dan DPR juga kita lakukan.” Begitu ungkap Sunarjo, salah satu pegiat IDEA Yogyakarta yang ikut mendampingi kelompok perempuan Gunungkidul.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Tulisan ini adalah salah satu bab dalam buku <em>Dari Garis Depan Program Pengentasan Kemiskinan, Kumpulan Kisah Komunitas. </em>Tulisan ini hasil kerja sama antara FPPM, IDEA Yogyakarta, dan Jaringan Kelompok Perempuan Gunung Kidul dengan dukungan dari Ford Foundation.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianmardiana.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianmardiana.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianmardiana.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianmardiana.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianmardiana.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianmardiana.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianmardiana.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianmardiana.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianmardiana.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianmardiana.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianmardiana.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianmardiana.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianmardiana.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianmardiana.wordpress.com/287/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=287&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/08/20/kaum-perempuan-bukan-orang-rumahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/869e72f2d64131308630674f4f3ed1db?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianmardiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/dsc01244.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01244</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/dsc01249.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01249</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/dsc01202.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01202</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Metode Calistung dalam Isu Kesehatan Ibu dan Anak</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/08/18/metode-calistung-dalam-isu-kesehatan-ibu-dan-anak/</link>
		<comments>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/08/18/metode-calistung-dalam-isu-kesehatan-ibu-dan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 06:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianmardiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianmardiana.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dian Mardiana CALISTUNG adalah singkatan dari membaca, menulis, dan berhitung. Calistung adalah tahapan dasar orang bisa mengenal huruf dan angka. Banyak pakar menganggap penting calistung untuk mempermudah komunikasi dalam bentuk bahasa tulis dan angka. Umumnya belajar calistung ini banyak disampaikan di pendidikan formal, yaitu sekolah. Fenomena muncul ketika ada masyarakat yang ternyata belum bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=271&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#808080;"><strong>Oleh: Dian Mardiana</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong> </strong></span></p>
<div id="attachment_272" class="wp-caption aligncenter" style="width: 710px"><strong><strong><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/img_2615-b.jpg"><img class="size-full wp-image-272" title="BENQ DIGITAL CAMERA" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/img_2615-b.jpg?w=700&#038;h=254" alt="" width="700" height="254" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Ibu-ibu kader posyandu berdiskusi bagaimana menerapkan metode literasi/ calistung pada isu kesehatan ibu dan anak</p></div>
<p><strong>CALISTUNG</strong> adalah singkatan dari membaca, menulis, dan berhitung. Calistung adalah tahapan dasar orang bisa mengenal huruf dan angka. Banyak pakar menganggap penting calistung untuk mempermudah komunikasi dalam bentuk bahasa tulis dan angka. Umumnya belajar calistung ini banyak disampaikan di pendidikan formal, yaitu sekolah.</p>
<p>Fenomena muncul ketika ada masyarakat yang ternyata belum bisa mengenyam sekolah. Mereka tahu huruf-huruf dan angka tapi tidak bisa membaca. Mereka tahu uang tapi tidak bisa menghitungnya. Tahap-tahap pengenalan inilah yang mulai banyak dikaji dan dikembangkan dalam pengembangan metode calistung atau literasi.</p>
<p><span id="more-271"></span>Bagi anak sekolah kegiatan membaca, menulis, dan berhitung sudah jadi kerjaan sehari-hari. Tapi berbeda dengan pelajar dewasa. Mereka yang tidak mengenyam dunia pendidikan, tidak membutuhkan teori calistung seperti anak sekolah. Mereka ingin belajar calistung ketika itu bisa meningkatkan kualitas hidup dan berguna dalam kegiatannya sehari-hari.</p>
<p>Pada data statistik UNESCO Institute tahun 2008, tercatat bahwa di Indonesia warga dewasa  yang mampu membaca teks dan angka yang sederhana adalah 91.4% dari total penduduk Indonesia. Sedangkan, warga yang buta huruf adalah 8.6%. Prosentase tersebut terpecah dengan komposisi laki-laki yang masih buta huruf adalah 4,3 juta penduduk. Sedangkan warga belajar perempuan adalah 10,1 juta penduduk. Jika demikian, Indonesia memiliki prosentase literasi orang dewasa yang cukup tinggi dengan peringkat ke delapan, meninggalkan 12 negara Asia Pasifik lainnya.</p>
<p><strong>Calistung pada Isu ASI Eksklusif</strong></p>
<p>Tingginya angka kematian anak dan rendahnya kualitas kesehatan dan hidup keluarga adalah penting dan menjadi perhatian bersama saat ini. Contoh saja, ASI Eksklusif setelah dua puluh tahun lamanya disosialisasikan, tetap saja belum tampak kesadaran masyarakat untuk menerapkannya. Tumbuhnya kesadaran ini disinyalir karena dalam penyampaian atau sosialisasi kesehatan belum menggunakan metode yang pas.</p>
<p>Penerapan calistung dalam isu kesehatan diyakini bisa meningkatkan kesadaran ibu-ibu dan masyarakat umum lainnya agar paham akan pentingnya menjadi sehat. Kolaborasi metode calistung dalam isu kesehatan ibu dan anak akan jauh lebih efektif dibandingkan sosialisasi tanpa metode literasi.</p>
<p>Dalam pendidikan literasi bagi orang dewasa, penerapan calistung bukan hanya membaca dan menulis A B C D atau menghitung 1 2 3 4 tapi lebih pada membaca informasi teks, memahami informasi, memaknai informasi dengan memberikan interpretasi atas teks, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Contohnya, ketika informasi ASI pertama/ kolostrum  disampaikan pada warga belajar dalam bentuk teks, mereka menjadi tahu bahwa ASI pertama/ kolostrum ini adalah ASI penting yang bisa membuat bayi kebal akan penyakit. Pada saat yang sama, warga mulai mengenal dan memahami kenapa ASI pertama itu menjadi penting. Mereka memaknai teks lalu menginterpretasikannya. Pemahaman inilah yang perlu ditekankan karena akan berdampak pada sikap dan perilaku si ibu atas ASI Eksklusif.</p>
<p><strong>Membaca Dalam Arti Luas</strong></p>
<p>Di Indonesia saat ini pengertian membaca sudah mulai berkembang. Proses membaca tidak lagi berarti tok membaca saja, yaitu mengeja dan merangkai huruf menjadi kata. Melainkan lebih pada meningkatkan budaya baca dan pemikiran kritis terhadap satu persoalan. Dalam hal ini, membaca bukan hanya proses mengeja dan mengeluarkan kata dari mulut belaka. Ketika warga belajar mulai membaca, mereka memasuki proses mengenal bahasa tulis, memahami makna di balik bahasa tulis, menerjemahkan makna tersebut, dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<div id="attachment_273" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/img_2594-b.jpg"><img class="size-medium wp-image-273" title="BENQ DIGITAL CAMERA" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/img_2594-b.jpg?w=300&#038;h=160" alt="" width="300" height="160" /></a><p class="wp-caption-text">Ibu-ibu di Kota Tasikmalaya belajar membaca dan memahami teks tulis dari potongan-potongan teks pada kertas</p></div>
<p>Kegiatan membaca dengan pengertian luas tadi telah dipraktekkan pelajar ibu-ibu di Kota Tasikmalaya. Salah satu ibu membaca keras potongan teks “Bayi memiliki naluri kuat untuk mencari puting dalam satu jam pertama setelah lahir.” Kegiatan membaca ini bukan hanya melancarkan kembali lidah yang kaku dalam membaca teks tulis, namun kalimat tersebut memberi makna penting bagi warga belajar.  Mereka akan lebih bisa paham teks dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru atas informasi pada teks tulis itu.</p>
<p>Dalam proses membaca teks tulis tersebut, ini berarti warga belajar sedang memahami makna yang terkandung pada teks. Pertanyaannya bisa saja muncul ketika mereka merasa heran kenapa bayi yang baru lahir bisa langsung mencari puting si ibu. Rasa heran dan ingin tahu ini akan menggiring si pelajar untuk menafsirkan makna dari teks itu. Jika begitu, mudah saja dia mempraktekannya, bahkan ikut mensosialisasikan agar si bayi melakukan inisiasi menyusu dini atau IMD.</p>
<p><strong>Tidak Lagi Ceramah</strong></p>
<p>Untuk menunjang pemahaman warga belajar akan sebuah persoalan, tentu saja media penyuluhan yang biasa dilakukan para kader posyandu tidaklah cukup. Tantangan terbesar bukan hanya cukup ketika ibu-ibu mulai mengangguk tanda mengerti atau mengiyakan ucapan bidan saat periksa kehamilan. Melainkan lebih pada menumbuhkan kepercayaan si ibu terhadap informasi yang didapat dan memastikan dia menerapkan informasi itu dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Cara menumbuhkan kepercayaan inilah, fasiliator mencoba bukan hanya menjadi penyuluh yang sering menggunakan metode ceramah saat penyuluhan kesehatan, namun lebih tertantang untuk mengembangkan metode-metode baru dalam penyampaian isu kesehatan. Metode lain agar para ibu tidak bosan dan hanya mengangguk-angguk belaka, tapi dia menjadi promotor bagi yang lain dalam menerapkan cara hidup sehat dengan mendukung ASI Eksklusif atau IMD.</p>
<p>Bagi para kader posyandu yang terbiasa memberi penyuluhan dengan metode ceramah, mengembangkan metode baru adalah tantangan tersendiri. “Ini baru bagi saya dan mendorong agar kader jadi kreatif dan bisa dipercaya ibu-ibu kampung.” Ungkap ibu Eli, kader kampung Kahuripan, seusai menjelaskan media gambar di depan kader-kader dari kampung lain di Tasikmalaya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Tulisan ini adalah hasil kerja sama Sumbangsih Nuansa Indonesia Tasikmalaya (SNIT), Studio Driya Media (SDM) Bandung, dan Sentra Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (SPPM) dengan dukungan dana dari Asia-Pasific Cultural Centre for UNESCO (ACCU) dan ASIENCE (Kao Corporation) Japan<strong>.<br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianmardiana.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianmardiana.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianmardiana.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianmardiana.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianmardiana.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianmardiana.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianmardiana.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianmardiana.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianmardiana.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianmardiana.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianmardiana.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianmardiana.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianmardiana.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianmardiana.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=271&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/08/18/metode-calistung-dalam-isu-kesehatan-ibu-dan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/869e72f2d64131308630674f4f3ed1db?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianmardiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/img_2615-b.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BENQ DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/08/img_2594-b.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">BENQ DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASI Eksklusif, Tidak Mahal Tidak Pula Dikenal</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/28/asi-eksklusif-tidak-mahal-tidak-pula-dikenal/</link>
		<comments>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/28/asi-eksklusif-tidak-mahal-tidak-pula-dikenal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 05:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianmardiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianmardiana.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dian Mardiana IBU itu menggendong anaknya. Wajahnya tidak terlihat. Ditutupi selendang. Ketika helai kain itu terbuka. Wajah anak itu terlihat murung. Kulitnya tidak mulus murni. Ada bekas bercak hitam. Dilihat lebih dekat, titik-titik hitam itu mulai memudar. Bekasnya terlihat menyelimuti seluruh kulit di badan, tangan, dan kakinya. Aldi, seorang bocah sepuluh bulan rupanya habis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=256&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color:#888888;">Oleh: Dian Mardiana</span></strong></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong><span style="color:#000080;"> </span></strong></span></p>
<div id="attachment_257" class="wp-caption alignleft" style="width: 239px"><strong><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/nita-dan-aldi.jpg"><img class="size-medium wp-image-257" title="Nita dan Aldi" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/nita-dan-aldi.jpg?w=229&#038;h=300" alt="" width="229" height="300" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Aldi  sedang digendong ibunya. Dia habis terkena campak.</p></div>
<p><strong>IBU </strong>itu menggendong anaknya. Wajahnya tidak terlihat. Ditutupi selendang. Ketika helai kain itu terbuka. Wajah anak itu terlihat murung. Kulitnya tidak mulus murni. Ada bekas bercak hitam. Dilihat lebih dekat, titik-titik hitam itu mulai memudar. Bekasnya terlihat menyelimuti seluruh kulit di badan, tangan, dan kakinya. Aldi, seorang bocah sepuluh bulan rupanya habis kena campak.  Kondisi badannya memang rentan. Kadang dia suka mencret. Gampang terserang penyakit.</p>
<p>Anak sehat memang idaman keluarga. Anak sesekali sakit juga sudah biasa. Tapi jika banyak anak yang sakit di satu kampung tentu jadi persoalan bersama. Satu anak terkena campak memang biasa. Namun ketika ini menjadi wabah, tentu persoalannya menjadi lain. Beberapa penelitianmenyebutkan sakitnya seorang anak dipengaruhi juga dari kesehatan si ibu dan kekebalan tubuh si anak. Saat itulah kesehatan ibu dan anak di perkenalkan. Berbagai penyuluhan kerap kali dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Salah satunya pengenalan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif. Namun sayangnya, berbagai penyuluhan kadang kala kurang mengena pada prakteknya.<span id="more-256"></span></p>
<p>Saat ini ASI Eksklusif kembali gencar didendangkan. “Berikan sampai usia bayi 6 bulan” begitu kata Bidan tiap kali ibu-ibu itu menemuinya. Jika bidan mulai berceramah, mereka hanya mengangguk-angguk. Pada prakteknya, ASI tidak semudah itu diterima masyarakat. Ibu Uus misalnya, ibu dari kampung Salamitan kelurahan Setia Mulya ini tetap saja bandel mengikuti saran bidan. Anak baru beberapa minggu saja, dia tidak sungkan-sungkan memberi anaknya pisang. “Asal tidak nangis” ungkapnya sambil tertawa keras.</p>
<p><strong>ASI Eksklusif Bukan ASI Biasa</strong></p>
<p>ASI Eksklusif di Indonesia sendiri pertama kali di sosialisasikan tahun 1980-an. Hanya saja, pada saat itu ASI banyak didiskusikan di kota-kota besar. Desa-desa kecil, warga urban, dan perkampungan masih saja memberi bayi makanan apapun asalkan dia suka dan tidak nangis.</p>
<p>Sepuluh tahun setelahnya, tahun 1990-an mulailah merambah ke desa-desa, kelurahan dan perkampungan kecil. Melalui penyuluhan bidan dan puskesmas di kecamatan, ASI Eksklusif sudah dikenal masyarakat setempat. Hanya beberapa desa terdekat yang sudah mulai mencanangkan program ASI pada bayi. Itupun dengan definisi berbeda.</p>
<p>ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan pada bayi dari 0 bulan sampai dengan 6 bulan usia bayi tanpa asupan susu atau makanan lain. Dari definisi ini saja sudah terlihat jelas, bahwa ASI dinamai ASI Eksklusif itu jelas rentang waktunyanya yakni hanya pada bayi 0 – 6 bulan tanpa pemberian susu kaleng, tajin, air gula, atau makanan lain.</p>
<p>Rupanya definisi ASI Eksklusif tidak sepenuhnya diterapkan pada bayi. Hal ini terihat dari diskusi terpadu tutorial pertama yang dilakukan oleh Studio DriyaMedia dengan SNIT tentang penerapan ASI Eksklusif di Kota Tasikmalaya hari Kamis lalu (20/6).</p>
<p>“Bisa diceritakan bagaimana pengalaman ibu-ibu saat menyusui anak dengan ASI?” Tanya Lilis, seorang fasilitator tutorial saat itu. Suarapun langsung bergemuruh. Lebih dari sepuluh ragam suara menjawab serentak. Ibu Uus yang paling keras. “empat bulan”, disusul dengan jawaban “enam bulan”, “satu tahun”, ada juga “dua tahun setengah.” Jelas ibu-ibu dari tiga kampung yang berbeda.</p>
<div id="attachment_258" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/s6300177.jpg"><img class="size-medium wp-image-258" title="Ibu-Ibu Setia Mulya" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/s6300177.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ibu-ibu Kel. Setia Mulya menulis memberi tanggapan atas pertanyaan tutor</p></div>
<p>“Bu, ASI Eksklusif itu hanya tok diberikan pada bayi 0 – 6 bulan” Jelas Rianingsih, seorang tutor saat itu. Kaum ibu hanya mengangguk-angguk. Sebagian dari mereka sudah paham definisinya, namun sebagian lainnya ingat-ingat lupa. Maklum saja anak-anak mereka sudah besar dan sudah lewat dari 6 bulan. Mereka hanya bercerita pengalamannya masing-masing saat bayi mereka dilahirkan lalu dibesarkan dengan ASI dan asupan susu tambahan. “Saya sudah menerapkan ASI pada bayi selama 6 bulan, hanya kalau saya ke warung, sesekali pakai susu tambahan.” Ujar salah satu ibu dengan percaya diri. Dengan begitu, pada prakteknya bayi 0 – 6 bulan masih saja diasupi susu tambahan, bubur bayi, buah-buahan, dan makanan sampingan lainnya. Begitulah 30 peserta ibu-ibu itu menanggapi saat Studio DriyaMedia bersama-sama dengan SNIT, mencoba menggali informasi tentang penerapan ASI Eksklusif pada bayi.</p>
<p>Dari sini tentunya terlihat jelas, bahwa pada tahun 2010 di Kelurahan Setiamulya Tasikmalaya, definisi ASI Eksklusif belum juga merata dipahami kaum hawa. Pada diskusi itu, semuanya memang sangat antusias dan berani bercerita bahwa mereka sudah menerapkan apa yang dikatakan bidan kelurahan. Mereka sangat yakin bahwa pemberian ASI sudah dilakukan pada bayi. Namun, ketika definisi ASI Eksklusif itu dipaparkan, hanya satu dari 30 peserta yang mampu menerapkannya. Jadi siapa bilang ASI itu mahal. Dan siapa bilang ASI itu lebih dikenal.</p>
<p><strong>Merk-Merk Bubur Bayi Lebih Dikenal Warga Kampung</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Semua ibu sepertinya sepakat jika mereka begitu sibuk dengan urusan anak. Saat pertemuan ini saja, ibu-ibu datang bersama anak-anaknya. Sebagian anak mereka gendong. Sebagian yang lain bermain. Beberapa bocah berpose ala selebriti begitu kamera itu dijepret. Beberapa bocah lain berlari kejar-kejaran. Sebagian yang digendong disuapi makan siang. Ada tim, bubur bayi, ada juga pisang.</p>
<p>Dari semua anak yang digendong dan diberi makan siang, rata-rata berusia lebih dari enam bulan. Wajar saja, jika ibu-ibu mereka menenteng-nenteng mangkuk tim atau bubur bayi untuk makan siangnya. “saya biasa memakai Nestle Cerelac, Promina, Sun” ujar salah satu Ibu sambil memberi makan anaknya. “Kalau pagi-pagi biasanya saya kasih bubur bayi kemasan, kalau siang saya kasih jus buah-buahan seperti jeruk, apel, alpukat, ” ungkap ibu yang lain.</p>
<p>Rupanya memberi anak bubur bayi di usia lebih dari 3 bulan dengan merk-merk di warung lebih disukai para ibu kampung. Nestle Cerelac, Sun, Promina, adalah merk-merk yang biasa jadi santapan anak di usia sangat dini. “Kue regal juga” celetuk ibu berbajukan putih ke coklat-coklatan. Dengan beragam rasa dan kemasan praktis nan menarik, membuat para ibu tidak usah sibuk menyiapkan makan bayi. “lebih praktis” begitu lontaran yang terdengar.</p>
<p>Di sisi lain, kaum ibu ini pun tidak usah sibuk pula meneteki anak terus-terusan. Malah, mereka lebih senang jika anak minum susu dot dari susu formula bermerk SGM. “Di usia 4 bulan, saya memberi anak susu SGM” aku teh Nia, seorang ibu muda dari kampung Salamitan. Mereka sepertinya rela mengeluarkan lembaran uang untuk makan si bayi. Padahal, dari obrolan itu tidak satu pun ibu-ibu yang bilang bahwa ASI itu perlu uang.</p>
<p><strong>Menggali Informasi dari Mulut ke Mulut</strong></p>
<p>Kelurahan Setia Mulya terletak di kota Tasikmalaya, jaraknya tidak jauh dari pusat kota. 5-7 kilometer jarak yang mungkin ditempuh dari alun-alun kota. Namun, tengok saja informasi kesehatan yang mereka terima begitu jauh dari kemudahan. Setiap bulan, Bidan Kelurahan datang memberi penyuluhan dan melakukan rutinitas posyandu. Minggu ketiga di Kampung Salamitan, minggu kesatu di Kampung Peundeuy. Semua informasi kesehatan didapat dari posyandu ini.</p>
<p>Komunikasi satu bulan sekali bukanlah waktu yang sebentar. Bisa dibilang pertemuan itu sangat singkat. Satu hari dalam sebulan. Hanya dua jam. Bidan yang datang pada posyandu itu hanya cukup memberi imunisasi pada balita-balita di kampung. Sesekali menyampaikan informasi kesehatan yang perlu. Namun, waktu yang singkat ini biasanya habis dengan antrian balita yang ditimbang dan diberi obat untuk kekebalan tubuh.</p>
<p>Singkatnya waktu tak memberi kesempatan ibu-ibu untuk curhat tentang kondisi anak atau mengijinkan bidan bertanya tentang kondisi anak satu per satu. Akhirnya posyandu hanya menjadi rutinitas timbang bayi dan imunisasi.</p>
<p>“Lebih banyak dari saling bertanya pada tetangga” begitu jawab teh Nia saat ditanya tentang informasi kesehatan yang diperoleh. Ibu-ibu lain pun mengiyakan jawaban itu. Tampaknya, informasi yang didapat tersebar dari mulut ke mulut. Tetangga menjadi tempat efektif untuk bertanya. Apalagi, saat bidan itu hanya punya waktu sekali dalam sebulan mengunjungi kampung-kampung.</p>
<p>Ketika salah satu ibu tidak hadir pun di posyandu. Informasi itu didapat dari mulut tetangga. Tambahan lain, “Yah dari keluarga” ujar mereka. Kadang-kadang apa yang disampaikan bidan pun bukanlah solusi yang dirasakan masyarakat karena bidan cenderung memberi informasi kesehatan saat ini menurut mereka dan berdasarkan programnya sendiri. “Paraji lebih bisa diandalkan,” jelas banyak orang.</p>
<p><strong>Beberapa Alasan [Tidak] Bisa Pakai ASI</strong></p>
<p>75% ibu-ibu di kelurahan ini melahirkan dengan bantuan paraji. Prosesnya cepat dan jaraknya dekat. Kehadiran bidan dalam proses persalinan memang kurang membantu. Bukan tidak percaya, hanya saja pelayanan gratis dari pemerintah tidak pas dengan kebutuhan mereka. Untuk penggunaan KB saja daripada gratis, ibu-ibu lebih memilih untuk mandiri, beli sendiri.</p>
<p>Penggunaan alat kontrasepsi mengawali ketidakpercayaan mereka pada proses selanjutnya. Persalinan saja mereka percayakan pada paraji. Malah, parajilah yang paling mendukung penggunaan ASI Eksklusif dengan banyak pertimbangan dan pengalaman.</p>
<div id="attachment_259" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/tulisan-gabung.jpg"><img class="size-medium wp-image-259" title="Tulisan ibu-ibu Setia Mulya" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/tulisan-gabung.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tulisan ibu-ibu meyakinkan bahwa ASI Eksklusif bisa diterapkan di Kel. Setia Mulya dan mensosialisaskannya pada keluarga dan tetangga.</p></div>
<p>ASI Eksklusif memang punya manfaat positif bagi bayi. Selain sesuai dengan pencernaan bayi, pula meningkatkan kekebalan tubuh. Muhammad Fahmi, satu-satunya anak yang diberi ASI Eksklusif di satu kelurahan ini, tubuhnya terlihat padat dan badannya sehat. “Jarang sakit” cetus Ibu yang biasa dipanggil Teh Amin ini. Untuk memastikan dia minum ASI Eksklusif, si ibu rela membawa anaknya kemanapun dia pergi. Bahkan, suaminya pun turut mendukung dan mendampinginya kala perlu. Pada pertemuan ibu-ibu ini saja Teh Amin menggendongnya kemana-kemana. Ketika dia pergi jauh untuk ikut pelatihan, suaminya pun turut dan sesekali menggendongnya jika si ibu sedang diskusi.</p>
<p>Lain lagi dengan si kembar, Aldi dan Aldo, sejak dari lahir sudah diberi susu formula, bukan ASI Eksklusif. Si kembar lahir premature dan ASInya pun tidak keluar. “Sejak lahir saya sudah dipisahkan selama 17 hari” tutur Teh Nita  sambil mengelus-ngelus Aldi yang digendongnya sedari tadi. Ibu muda dengan anak kembar ini biasa memberi anak susu SGM. “Dalam sebulan untuk susu saja, saya bisa habis 500 – 600 ribu rupiah,” Keluhnya. Dia lalu pun menambahkan “Sama seperti cicilan motor.”</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Tulisan ini adalah hasil kerja sama Sumbangsih Nuansa Indonesia Tasikmalaya (SNIT), Studio Driya Media (SDM) Bandung, dan Sentra Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (SPPM) dengan dukungan dana dari Asia-Pasific Cultural Centre for UNESCO (ACCU) dan ASIENCE (Kao Corporation) Japan<strong>.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianmardiana.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianmardiana.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianmardiana.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianmardiana.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianmardiana.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianmardiana.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianmardiana.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianmardiana.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianmardiana.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianmardiana.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianmardiana.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianmardiana.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianmardiana.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianmardiana.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=256&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/28/asi-eksklusif-tidak-mahal-tidak-pula-dikenal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/869e72f2d64131308630674f4f3ed1db?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianmardiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/nita-dan-aldi.jpg?w=229" medium="image">
			<media:title type="html">Nita dan Aldi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/s6300177.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ibu-Ibu Setia Mulya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/tulisan-gabung.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tulisan ibu-ibu Setia Mulya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Produksi Ceriping: Awal Baru Pengembangan Industri Kreatif</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/16/produksi-ceriping-awal-baru-pengembangan-industri-kreatif/</link>
		<comments>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/16/produksi-ceriping-awal-baru-pengembangan-industri-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 07:31:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianmardiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ceriping]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[semoyo]]></category>
		<category><![CDATA[ubi kayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianmardiana.wordpress.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dian Mardiana Bentuknya bundar tidak beraturan. Rasanya gurih dan renyah di lidah. Makanan ini dirajang begitu tipis. Bahan dasarnya bisa dari ubi kayu, ubi jalar, sukun, dan pisang. Disukai mulai dari yang muda sampai usia senja. Malah biasa jadi cemilan keluarga. Masyarakat Gunung Kidul mengenalnya dengan nama ceriping. Puput, anak sekolahan kelas 3 SMA [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=248&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <span style="color:#888888;"><strong>Dian Mardiana</strong></span></p>
<p><span style="color:#000080;"><strong> </strong></span></p>
<div id="attachment_250" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><strong><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/ceriping.jpg"><img class="size-medium wp-image-250" title="ceriping" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/ceriping.jpg?w=300&#038;h=180" alt="" width="300" height="180" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">ceriping ubi kayu dengan bumbu pedas</p></div>
<p><strong>Bentuknya </strong>bundar tidak beraturan. Rasanya gurih dan renyah di lidah. Makanan ini dirajang begitu tipis. Bahan dasarnya bisa dari ubi kayu, ubi jalar, sukun, dan pisang. Disukai mulai dari yang muda sampai usia senja. Malah biasa jadi cemilan keluarga. Masyarakat Gunung Kidul mengenalnya dengan nama ceriping.<span id="more-248"></span></p>
<p>Puput, anak sekolahan kelas 3 SMA mengemilnya di waktu senggang. Dia mendengar musik. Ditemani ceriping ubi kayu di atas mejanya. Tidak hanya itu, warung-warung terdekat pun menjajakannya, menggantung di papan atas warung. Sepertinya cemilan ini cukup tenar dan digemari warga Semoyo Dusun Salak ini. Malah, sederetan rumah di dusun ini menjadi pusat produksi rumah tangga.</p>
<p><strong>Mudah dikelola</strong></p>
<div id="attachment_251" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/maryanti-merajang-ceriping.jpg"><img class="size-medium wp-image-251" title="Maryanti, merajang ceriping" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/maryanti-merajang-ceriping.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Maryanti sedang merajang ceriping tipis-tipis</p></div>
<p>Pengelolaan ceriping memang tidak memerlukan banyak biaya. Apalagi, pengelolaannya langsung oleh para petani di desa itu. Maryanti misalnya, dia petani juga pengusaha. Usahanya bisa terbilang sukses. “saya sudah benyak mendistribusikan ceriping ini ke banyak warung-warung, pasar, toko-toko dan agen di Yogyakarta” ujarnya berbangga diri. Ditemani oleh tiga orang pegawai, dia yakin dengan usaha ceriping dirinya akan terus maju dan sukses.</p>
<p>Dengan penuh percaya diri, <em>single parent</em> ini menerangkan bahwa potensi ceriping di Desa Semoyo memang baik. Pasalnya, pertanian desa semoyo banyak menghasilkan umbi-umbian yang bisa dikelola dengan bermacam cara. Ceriping salah satunya. Tengok saja data hasil tani di Kabupaten Gunung Kidul. Ubi kayu muncul menempati prosentase tinggi. Catatan terakhir melaporkan bahwa produksi ubi kayu tahun 2008 menempati angka 791.630 ton untuk luas lahan 79.264 ha.</p>
<p>Dilihat dari hasil produksinya tentu saja potensi ini patut dikembangkan. Industri ceriping bisa saja jadi alternatif industri komunitas di wilayah yang terkenal dengan bukit kapur ini. Dengan karakter desa yang jauh dari sumber mata air dan berdiri di atas tanah berkapur, perlulah ditanami tanaman yang tidak rakus air. Sejalan dengan sifatnya, pemanfaatan umbi-umbian adalah potensi alternative yang sangat memungkinkan. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya tanaman ubi kayu di dibibir-bibir ladang. Dan di kebun dekat pekarang rumah banyak ditemukan juga pohon-pohon besar seperti durian, mangga, sukun, dan beberapa pohon besar yang bisa hidup tanpa limpahan air. Jika begitu, wajar saja jika Maryanti, salah satu perempuan tani di daerah ini membidik usaha ceriping sebagai salah satu potensial industri rumah tangganya.</p>
<p>Dalam prosesnya pengelolaan ubi kayu, ubi jalar, sukun, dan pisang ini memang tidak dikelola oleh maryanti sendiri. Tiga orang tetangganya pun ikut terlibat dalam pembuatannya. Selain menambah penghasilan keluarga, usaha ini memang menjadi salah satu kreasi ibu-ibu untuk memulai bisnis ceriping.</p>
<p><strong>Mudah dibuat</strong></p>
<div id="attachment_249" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/ceriping-1.jpg"><img class="size-medium wp-image-249" title="ceriping 1" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/ceriping-1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sumartini dan rekannya membungkus ceriping dalam kemasan kecil</p></div>
<p>Pembuatan ceriping terbilang mudah dipraktekan. dengan bahan baku yang murah dan mudah didapat, bumbu pun tidak banyak menguras saku. Ubi kayu misalnya, ubi kayu untuk ceriping dipilih yang tidak terlalu tua tidak juga terlalu muda. Kupas dan bersihkan. Setelah itu ubi kayu pun dirajang dengan pasah, sebuah alat perajang tradisional. kemudian mulailah ubi kayu ini direndam dalam air mendidih, dinginkan dan rendam lagi dengan air kapur yang sudah diendapkan. Goreng dan berilah bumbu. Setelah itu masuklah pada proses pengemasan. Ubi kayu yang sudah dibumbui itu dimasukan ke dalam plastik ukuran 1 ons dengan ditempeli label.</p>
<p>Dengan mudahnya pembuatan ceriping ini mendorong warga desa semoyo untuk mengembangkannya dalam industri rumah tangga kreatif. Hal ini memang baik untuk pengembangan potensi desa yang dikenal rawan air ini. Selain mengelola lahan pertanian, hasilnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.</p>
<p><strong>Harganya terjangkau</strong></p>
<p>Ceriping bukanlah cemilan mewah yang menghabiskan pundi-pundi uang saku. Harganya murah meriah. Dari mulai Rp. 500,- sampai 17.000,- tergantung pada kemasannya. Perempuan yang biasa dipanggil Mba Simar sendiri lebih memilih menjualnya murah. Satu bungkus itu harga jualnya Rp. 500,- di warung-warung dan pasar. “Sedangkan untuk satu pak berisi 10 bungkus dijual  Rp. 4.000,-“ ujarnya sambil tekun merajang ubi kayu tipis-tipis.</p>
<p>Semakin baik kemasan dan kualitas makanannya, semakin mahal harganya. Namun semahal-mahalnya ceriping, semua kalangan masih bisa membelinya. Ini pulalah yang membuat ceriping menjadi cemilan keluarga semua kalangan dari mulai warga kolong jembatan sampai warga berumah megah  bertanah hektar. Semoga saja bukan hanya Mba Simar di  Desa Semoyo ini muncul pula Mba-Mba lainnya yang bisa bangkit, membidik peluang, dan mengembangkan bisnis keluarga di sektor pertanian lainnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianmardiana.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianmardiana.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianmardiana.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianmardiana.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianmardiana.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianmardiana.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianmardiana.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianmardiana.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianmardiana.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianmardiana.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianmardiana.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianmardiana.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianmardiana.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianmardiana.wordpress.com/248/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=248&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/16/produksi-ceriping-awal-baru-pengembangan-industri-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/869e72f2d64131308630674f4f3ed1db?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianmardiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/ceriping.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ceriping</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/maryanti-merajang-ceriping.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Maryanti, merajang ceriping</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/ceriping-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ceriping 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naik Pesawat, Tegang Juga!</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/10/naik-pesawat-tegang-juga/</link>
		<comments>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/10/naik-pesawat-tegang-juga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 11:40:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianmardiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[Tiket]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianmardiana.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Dian Mardiana INI yang kedua kalinya. Biasanya saya pergi ke Yogyakarta pakai kereta api. Kali ini,1 Juni 2010, naik pesawat Lion Air dengan harga penerbangan sekitar 360.000 (harga promo). Sedangkan untuk pulangnya harga tiket mencapai Rp. 460.000,-, “Non Promo” Kata Yuni, seorang karyawan agen perjalanan. Tiket pesawat bentuknya hanya selembar kertas. Didalamnya, tertera jelas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=202&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <strong>Dian Mardiana<br />
</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>INI</strong></span> yang kedua kalinya. Biasanya saya pergi ke Yogyakarta pakai kereta api. Kali ini,1 Juni 2010, naik pesawat Lion Air dengan harga penerbangan sekitar 360.000 (harga promo). Sedangkan untuk pulangnya harga tiket mencapai Rp. 460.000,-, “Non Promo” Kata Yuni, seorang karyawan agen perjalanan. Tiket pesawat bentuknya hanya selembar kertas. Didalamnya, tertera jelas kode booking, nomor penerbangan, dan harga. Rupanya jasa pesawat bagi kalangan pebisnis atau pegiat organisasi yang hilir mudik keluar masuk pulau digemari sejak lama.<span id="more-202"></span></p>
<div id="attachment_204" class="wp-caption alignleft" style="width: 231px"><img class="size-medium wp-image-204" title="tiket pergi" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/tiket-pergi.jpg?w=221&#038;h=300" alt="" width="221" height="300" /><p class="wp-caption-text">E-ticket Bandung-Yogyakarta dengan pesawat Lion Air</p></div>
<p>Sekali pakai jasa angkutan udara, saya sendiri jadi ketagihan. Pelayanan e-ticket memudahkan orang untuk memakai jasa angkutan penembus awan. Hanya dengan memesan tiket ke biro perjalanan, dalam waktu beberapa menit tiket sudah bisa diterima lewat email. Atau dengan menghapal kode booking dan nomor penerbangan, tidak jadi persoalan. Inilah yang disebut tiket elektronik atau akrab dengan nama e-ticket.</p>
<p><strong>Layanan e-ticket, terobosan baru</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pelayanan e-ticket cukup menguntungkan bagi berbagai pihak. Tentu saja dengan adanya pemanfaatan teknologi informasi dan internet membantu kemudahan pelayanan bagi angkutan udara. E-ticket adalah terobosan baru pelayanan pemesanan tiket terhadap konsumen. Di Amerika saja, Soutwest Airlines, sebuah maskapai penerbangan bertarif rendah Amerika di Dallas, Texas, menawarkan pelayanan e-ticket pertama kali tahun 1994. di beberapa sumber, e-ticket maskapai ini mulai diberlakukan tahun 1993. Tahun 1998 dikabarkan cetak tiket konvensional tidak lagi beredar.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, pemanfaatan teknologi internet mulai dilakukan sejak tahun 2000-an. Pada tahun inilah, maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Merpati mulai menerapkan system booking elektronik. Tiket tidak lagi harus dicetak dalam kertas dan bahkan konsumen bisa memesan e-ticket dengan mudah.</p>
<p>Dengan begitu, tentu saja, layanan ini mendatangkan beberapa keuntungan. Bagi agen-agen perjalanan, pemberlakuan e-ticket bisa menekan jumlah kertas yang harus dikeluarkan atau biaya untuk administrasi danperalatan lainnya seperti printer dan sebagainya.  Bagi penumpang, kehilangan tiket cetak bukan lagi sebuah hambatan. Tiket tidak akan hilang dan digunakan oleh orang lain karena nama jelas konsumen sudah tertera dalam database online. Hanya tahu kode booking nya saja sudah cukup untuk mendapatkan kursi di pesawat. Selain itu, waktupun tidak banyak terbuang karena konsumen tidak perlu datang langsung ke agen atau biro perjalanan. Tiket sudah bisa dikirim melalui email atau fax bahkan melalui telp atau sms dengan informasi kode booking dan nama sesuai KTP. Prosesnya cepat bukan!</p>
<p><strong>Proses Masuk Bandara: Dimanapun Tetap Sama</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_205" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/boarding-pass-bag-depan.jpg"><img class="size-medium wp-image-205" title="boarding pass bag depan" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/boarding-pass-bag-depan.jpg?w=300&#038;h=192" alt="" width="300" height="192" /></a><p class="wp-caption-text">Tiket masuk dengan informasi tempat duduk</p></div>
<p>Seperti ada SOP (Standar Operasional Baku), proses yang dilakukan di Bandara dimanapun tetap sama.</p>
<div id="attachment_206" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/boarding-pass-bag-belakang.jpg"><img class="size-medium wp-image-206" title="boarding pass bag belakang" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/boarding-pass-bag-belakang.jpg?w=300&#038;h=212" alt="" width="300" height="212" /></a><p class="wp-caption-text">Stiker boarding pass menempel di bagian belakang tiket masuk</p></div>
<p>Pengalaman saya di Bandung ketika masuk, tentu kita diminta menunjukan e-ticketnya lalu periksa barang dan badan, dan berjalan menuju meja maskapainya. Saat itu saya menggunakan Lion Air maka saya sendiri menukar e-ticket di meja Lion Air dengan selembar kertas yang kecil. Pada proses penukaran ini, pegawainya meminta konsumen menunjukan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Hal tersebut mungkin ditujukan untuk menghindari</p>
<p>adanya pemalsuan identitas. Di lembar  kertas ini informasi menjadi lebih lengkap misalnya dengan informasi nomor kursi. Lalu di tiket yang kecil ini ditempelkanlah stiker boarding pass, semacam bukti penumpang naik pesawat. Di Bandara Husein Sastranegara biasanya sih, tiket yang sudah ditempel boarding pass itu kalau masuk masuk disobek setengahnya, yah seperti kita mau nonton ke bioskop. Di Bandara lain cukup dengan memperlihatkan saja, misalnya di Bandara Adisucipto Yogyakarta.</p>
<p>Di sana, barang-barang diperiksa untuk kedua kalinya yaitu ketika masuk ruang tunggu naik pesawat. Semua amplop berisi kertas pun diperiksa juga. Alat-alat elektronik juga sama. Di sinilah akan ketahuan jika penumpang membawa alat-alat dari logam, senjata, dan mungkin obat-obat terlarang.</p>
<p><strong>ATR 72-500, Beroperasi Tahun 2010</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>“Bagi penumpang tujuan, Yogyakarta, Solo, Balikpapan agar bersiap-siap karena pesawat sudah mendarat” begitu operator bilang. Pesawatnya kecil hanya memuat 72 penumpang dengan nomor kursi hanya 1 (A, C) dan 1 (D, F) sampai dengan 20 (A,C) dan 20 (D,F). Pesawat tujuan Bandung-Yogya ini menggunakan jenis ATR 72-500 buatan Prancis berkapasitas 72 tempat duduk. Di bagian atas tempat duduk dilengkapi dengan penyimpanan barang/tas seperti bis dan kereta api. Petunjuk penggunaan pelampung ada di bagian belakang kursi di depan kita. Lalu pelampungnya sendiri ada di bawah kursi penumpang. Di bagian samping kursi sabuk pengaman tertancap kuat.</p>
<p>ATR 72-500, pesawat ke Yogyakarta yang hanya terbang sekali dari Bandung ini, diperkenalkan sebagai pesawat pengangkutan regional. Bercat putih dengan logo Wings di bagian ekor menambah cantik dengan badan mungilnya. Pesawat ini dilengkapi mesin 127M Pratt &amp; Whitney dan sebuah kabin dengan standar teknologi navigasi yang lebih modern.</p>
<p>Menurut Edward Sirait, Wings Air kepada pers memilih pesawat jenis ini karena banyak digunakan baik di Eropa maupun Asia sehingga kualitas serta dukungan suku cadangnya telah terjamin. Pesawat ini juga telah menggunakan mesin dan alat navigasi yang terbaru atau generasi terakhir dengan tingkat kebisingan dan akurasinya telah memenuhi standard penerbangan pada masa-masa mendatang<a href="#_ftn1">[1]</a>. Pula, pesawat jenis ini, kata Edward, juga dikenal sangat irit bahan bakar dibanding pesawat bermesin jet. Di bagian dalam, tempat duduk pun lumayan nyaman, di tengah penerbangan suguhan segelas air aqua cukup memberi kepuasan untuk perjalanan 1 jam 10 menit.</p>
<p><strong>“Matikan HP dan Pasang Sabuk Pengaman”</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ada beberapa hal yang biasa disampaikan oleh pramugari saat di pesawat. Selepas pesawat tinggal landas dan berada di ketinggian yang cukup stabil, pramugari cantik bersiap-siap untuk memperagakan tentang penggunaan pelampung. Dia menunjukan pintu darurat jika terjadi apa-apa. Tapi, dia tidak bicara loh, hanya memperagakan saja. Suara itu datang dari pramugari lain dengan menggunakan sound system. Pramugari inilah yang pula menjelaskan ketinggian pesawat Bandung-Jogja, yaitu mencapai 17.000 di atas permukaan laut.</p>
<p>Rasa deg-degan mulai terasa saat pesawat mulai miring, belok, dan naik. Rasanya jantung ini naik turun, <em>ngaleunyap. </em>Di ketinggian tertentu<em>, </em>gesekan dengan awan terasa kecil.  Beda sekali ketika mau mendarat. Gesekan dengan awan begitu terasa. “<em>guruduk-guruduk”</em>. Apalagi saat pesawat menurunkan roda lalu perlahan mulai turun , dan mendarat. Menempelkan roda ke lintasan jalan bisa disebut saat yang menegangkan.</p>
<p><strong>Bandara Husein, Kecil dan Rumit.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Perjalanan balik tepatnya dari Bandara Adisucipto, pesawat yang mulai digandrungi di Indonesia ini dengan mulus lepas landas. Tidak telat. Tepat  jam 12.55 meninggalkan Yogyakarta. Tampak di jendela, rumah-rumah kecil tertata rapi dan ruas jalan yang besar mengelilingi Adisucipto. Di saat itu pula, terlihat landasan pacu bandara. Landasan ini tampak besar dengan pemandangan luas dan tertata.</p>
<p>Memasuki kota Bandung, barulah saya sadar. Bandara Husein ternyata jauh ketinggalan. Berbeda dengan Adisucipto, landasannya dikelilingi pemukiman dan fasilitas TNI AU. Sangat ramai dan padat apalagi dengan banyak pemukiman di sekitarnya. Pemandangan rumit menghiasi kedua mata.</p>
<p>Dua kali pesawat ATR ini mengelilingi pusat kota. Jaraknya memang tidak jauh dari bandara. Tower mesjid agung alun-alun bandung itu dua kali menghiasi mata. “Aduh, sepertinya kita berkeliling mencari landasan,” ujar Nandang, teman kerja yang duduk di sebelah saya. Awan saat itu memang tebal. Sepertinya pilot kami sedang berusaha membuat awannya pudar. Dari jendela, panjang landasan seperti sama dengan badan jalan kota. Betapa tidak panjangnya saja tidak cukup untuk ancang-ancang, hanya 2.250 meter. Sekali memutar landasan belum terlihat juga. Dua kali baru barulah kita mendarat. Barulah saya sadar kedua kalinya. Rupanya ini saat yang lebih menegangkan.</p>
<hr size="1" />
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> referensi <a href="http://vibizconsulting.com/column/index/regional/18691/berita_jawa">http://vibizconsulting.com/column/index/regional/18691/berita_jawa</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianmardiana.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianmardiana.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianmardiana.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianmardiana.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianmardiana.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianmardiana.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianmardiana.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianmardiana.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianmardiana.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianmardiana.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianmardiana.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianmardiana.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianmardiana.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianmardiana.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=202&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/10/naik-pesawat-tegang-juga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/869e72f2d64131308630674f4f3ed1db?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianmardiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/tiket-pergi.jpg?w=221" medium="image">
			<media:title type="html">tiket pergi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/boarding-pass-bag-depan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">boarding pass bag depan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/06/boarding-pass-bag-belakang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">boarding pass bag belakang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencetak itu tak susah…!!!</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/03/mencetak-itu-tak-susah%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/03/mencetak-itu-tak-susah%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 11:33:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianmardiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[isola pos]]></category>
		<category><![CDATA[kertas]]></category>
		<category><![CDATA[mencetak]]></category>
		<category><![CDATA[tabloid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianmardiana.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[WAH ini catatan lama sekali ketika aku kuliah. File ini kutemukan di diary ku tercinta. Tepatnya 21 Juli 2005, Aku mendapat pengalaman menarik aku diajak sama anak-anak UPM (Unit Pers Mahasiswa) untuk pergi ke percetakan. Rencananya adalah mencetak tabloid Isola Pos. Proses mencetak ternyata tidak sesusah seperti yang kita bayangkan. Sebelum menjadi sebuah tabloid, ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=177&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#000080;"><strong>WAH</strong></span> ini catatan lama sekali ketika aku kuliah. File ini kutemukan di diary ku tercinta. Tepatnya 21 Juli 2005, Aku mendapat pengalaman menarik aku diajak sama anak-anak UPM (Unit Pers Mahasiswa) untuk pergi ke percetakan. Rencananya adalah mencetak tabloid <em>Isola Pos. </em>Proses mencetak ternyata tidak sesusah seperti yang kita bayangkan.<span id="more-177"></span></p>
<p>Sebelum menjadi sebuah tabloid, ada proses yang harus dilewati. Pertama adalah proses film, artinya menjadikan file surat kabar dalam page maker di ubah ke dalam sebuah film. Untuk menjadi sebuah film itu harganya sangat mahal. Untungnya, kami mendapat discount 50 % maka untuk 1 cm<sup>2 </sup>harganya adalah 50 rupiah. Jika ukuran kertas nya 32 x 49 cm per lembar (2 halaman) maka tinggal dikalikan saja.</p>
<p>Kemudian proses itu berlanjut pada yang namanya Flat. Flat ini artinya merubah bentuk film menjadi sebuah cetakan pada alumunium untuk kemudian di fotokopi ke dalam kertas-kertas yang sudah dipotong, Menurut keterangan teman, anggota UPM juga, kertas itu kalau beli sendiri ukurannya adalah 62 x 100 per lembarnya. Kertas itu bisa dipotong sesuai permintaan kita. Kalau kita inginnya potongan 32 x 49, maka tinggal di pesan saja. Tentunya tanpa menambah ongkos pemotongan.</p>
<p>Harga satu rim kertas bervariasi. Kalau dilihat dari hasil survey kami, harga yang murah di bandung itu berkisar 100.000 rupiah per rim-nya. Setelah proses flat, kemudian flat itu di simpan ke dalam mesin. Ada berbagai macam mesin cetak. Yang saya tahu ada yang dinamakan Heidelberg, Oliver, dan GTO untuk mencetak surat kabar yang ukurannya besar, ya minimalnya ukuran majalah.</p>
<p>Perjalanan ini sungguh menyenangkan. Saya di ajak jalan-jalan keliling bandung pusat, dari mulai pembelian kertas yang di beli daerah jalan Astana Anyar tepatnya di toko kertas Lili, kemudian Film di Polar, jalan Pungkur. Terus flat dan cetak dilakukan di percetakan Sinyo jalan kembar no 2 Mochammad Toha.</p>
<p>Tak kuduga akan sejauh ini mengetahui proses cetak-mencetak surat kabar. Akhirnya sampailah kita pada tahap yang dinanti-nanti yaitu proses melipat. Wah, proses inilah yang membutuhkan tenaga pekerja yang millitan, karena untuk melipat tabloid sebanyak 1000 eksemplar tidak akan cepat jika dilakukan seorang diri. Makanya ajaklah anak-anak yang lain atau teman terdekat buat bantu-bantu.</p>
<p>Akhirnya tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang jalan-jalan cari pengalaman dan melakukan hal-hal yang menarik bersama teman-teman kita. Bye!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianmardiana.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianmardiana.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianmardiana.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianmardiana.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianmardiana.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianmardiana.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianmardiana.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianmardiana.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianmardiana.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianmardiana.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianmardiana.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianmardiana.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianmardiana.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianmardiana.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=177&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/06/03/mencetak-itu-tak-susah%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/869e72f2d64131308630674f4f3ed1db?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianmardiana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pulang ke Kotamu&#8230; Ada Setangkup Haru dalam Rindu&#8230;&#8221;</title>
		<link>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/05/27/pulang-ke-kotamu-ada-setangkup-haru-dalam-rindu/</link>
		<comments>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/05/27/pulang-ke-kotamu-ada-setangkup-haru-dalam-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 04:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianmardiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[etnik]]></category>
		<category><![CDATA[malioboro]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[pengamen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianmardiana.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dian Mardiana SELEPAS turun di Stasiun Tugu, berjalan sedikit sekitar 100 meter saja tampak keramaian mengelilingi jalan itu. Sepanjang jalan dijejali para pejalan kaki dan tukang dagang. Rupa-rupa cenderamata khas yogyakarta dipamerkan sedemikian rupa. Pernak pernik, bando, rupa-rupa tas, baju, dompet dari batik, dan berbagai macam souvenir dari perak dijajakan di kedua sisi jalan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=145&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Dian Mardiana</strong></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SELEPAS</span></strong> turun di Stasiun Tugu, berjalan sedikit sekitar 100 meter saja tampak keramaian mengelilingi jalan itu. Sepanjang jalan dijejali para pejalan kaki dan tukang dagang. Rupa-rupa cenderamata khas yogyakarta dipamerkan sedemikian rupa. Pernak pernik, bando, rupa-rupa tas, baju, dompet dari batik, dan berbagai macam souvenir dari perak dijajakan di kedua sisi jalan. Keramaian itu tidak hanya di dipenuhi oleh barang, lagu-lagu pun semarak didendangkan dari mulai lagu kenangan lama, keroncong,  sampai lagu-lagu nge-tren jaman sekarang. Dari mulai jaman Gesang, Ebiet G Ade, Peter Pan, Kla Project sampai lagu-lagu dalam bahasa jawa tak urung menambah riuh jalan Malioboro.<span id="more-145"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/05/dsc01259.jpg"><img class="size-medium wp-image-140" title="Yoyo, pengamen Yogyakarta" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/05/dsc01259.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Yoyo, berambut panjang, dan kawannya melantunkan aliran music Indonesia di depan lesehan di Yogyakarta</p></div>
<p>Namanya Yoyo. Rambutnya panjang ala rocker. Tampak dari tampilannya sudah seperti seorang musisi tulen. Dia memang selalu beroperasi di jalan yang dikenal karangan bunga itu. Lagu yang dibawakannya memang lagu-lagu baru yang lagi nge-tren di layar televisi maupun radio. Nada khas dan dialek jawanya mewarnai lagu jadi lebih berbau etnis. Semua dilantunkan begitu sempurna. “Lagu apa mba? Kita nyanyikan <em>by request</em>” tanya Yoyo.</p>
<p>Yoyo tidak sendiri. Dia ditemani teman. Berselendangkan gitar, berbekal sebotol air minum <em>aqua</em>, mereka mulai melantunkan lagu. Lagu Indonesia rupanya, Kla Project berjudul Yogyakarta.</p>
<address><em>Pulang ke kotamu</em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<address><em> Ada setangkup haru dalam rindu</em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<address><em>Masih seperti dulu</em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<address><em>Tiap sudut menyapa bersahaja</em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<address><em>Penuh selaksa makna</em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<address><em>Terhanyut aku akan nostalgia</em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<address> </address>
<address><em>Saat kita sering luangkan waktu </em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<address> </address>
<address> </address>
<address><em>Nikmati bersama</em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<address> </address>
<address> </address>
<address><em>Suasana Jogja&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<p>Yoyo dan temannya bukan satu-satunya pengamen yang biasa mangkal di malioboro itu. banyak pengamen lain yang sama-sama pula mengais rejeki di kawasan strategis itu. Jejalan pengunjung dari daerah lain se Indonesia juga mancanegara menjadi ladang rejeki bagi para pengamen dan pedadang. Di lain sisi tidak disadari berbagai latar belakang pengunjung itu menuntut para pengamen untuk melakukan improvisasi dalam lagunya. Apalagi menyanyi <em>by request</em> bukanlah hal gampang.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/05/dsc01250.jpg"><img class="size-medium wp-image-141" title="DSC01250" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/05/dsc01250.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Grup pengamen menggabungkan aliran musik yang berbeda.  Biasa mangkal di trotoar tengah dimana orang biasa berlalu lalang</p></div>
<p>Bernyanyi memang satu tuntutan bagi pengamen, tapi dengan menyanyi <em>by request</em> wawasan pengamen mesti luas pula. Selang beberapa meter saja ke sebelah kiri, Yoyo harus bersaing dengan grup pengamen lain dengan lagu batak yang disenandungkan kencang. Lalu, beberapa meter sebelah kanan, pengamen lain menggabungkan alunan musik reggae dan jazz. Jika ingin bertahan dan eksis yah para pengamen harus juga ikut mengikuti perkembangan musik, dari yang lagu lama, etnis, hip hop, reggae, jazz, sampai lagu-lagu indie yang tengah popular saat ini. Kalau tidak, tergusur sudah.</p>
<p>Tidak salah juga banyak musisi terinspirasi oleh malioboro ini. Ebiet G Ade, Sawung Jabo, grup musik Shaggydog, Mas Anies &#8220;Bapak&#8221; Reggae Yogyakarta, Kla Project adalah salah satunya. Sebaliknya, banyak pula musisi lahir di kota pendidikan ini. Mereka tumbuh menjadi band-band indie dengan ragam lagu berbeda.</p>
<p>Menarik bukan? Dengan begitu, bermusik bukan lagi menjadi ladang kerja melainkan hobi, ladang kreatifitas, inspirasi menciptakan musik aliran baru, atau bahkan ideologi. Mereka mencampur, menggabungkan beberapa aliran musik, mengganti lirik lagu barat dengan lirik jawa, membawakan lagu etnis dengan musik jazz, melagukan lagu barat dengan aliran musik keroncong. Itulah yang dilakukan pengeman-pengamen seperti Yoyo dan kawan-kawannya di keramaian yang hanya satu kilometer itu.</p>
<p><strong>Musik: Inspirasi Etnik Damai</strong></p>
<p>Lokasi Malioboro memang sangat strategis, 800 meter dari kraton Yogyakarta, dekat dengan stasiun Tugu, dan gedung-gedung bersejarah lainnya. Jika saat Soekarno Jaya dan Ibu Kota Negara bertempat di Yogyakarta mungkin, saat ini Yogyakarta punya lain cerita. Sejarah menoreh sedikit pena pada kota pendidikan ini. Tambah lagi, kepopulerannya dalam dunia musik tengah banyak dipopulerkan para musisi. Ini pula yang menjadi daya tawar kenapa pengunjung jika dating ke jawa, lebih suka ke daerah Yogyakarta dibanding daerah lainnya.</p>
<p>Tidak heran juga jika tempat ini mempertemukan orang-orang dari berbagai kalangan. Ada bule-bule yang dating dan pergi, tamu-tamu domestik berburu cinderamata dan pengunjung yang tertarik dengan budaya Indonesia. Ada juga orang jawa bertemu orang sunda, mereka lalu bertemu warga batak, sampai bahkan warga papua. Semua suku dari sabang sampai merauke bertemu disini. Bukan untuk tawuran apalagi berperang. Semuanya dating untuk jalan-jalan, berbelanja, menikmati budaya dari musik sampai pernak pernik, dan mungkin jajan kuliner.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/05/dsc01262.jpg"><img class="size-medium wp-image-142" title="DSC01262" src="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/05/dsc01262.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Berbekal banyak instrumen musik dan ragam lagu, pengamen ini bernyanyi dari lesehan ke lesehan</p></div>
<p>Di lesehan tetangga tempatku makan,  beberapa orang batak berkumpul. Di samping mereka ada orang dari Bali dan Lombok. Para pengamen cepat-cepat membidik mereka lalu melantunkan lagu dalam bahasa kaum batak.  Mereka semua tersenyum senang. Tidak terlihat raut-raut muka murung saat para pengamen itu bermusik. Malah, sepertinya orang batak meminta mereka berlagu lagi. Siapa yang tidak mau dihargai, para pengamen itu memang berasal dari Jawa. Salah satunya berasal dari Bantul. Orang Jawa menyanyikan lagu Batak. Di lesehan lain, bule-bule itu tertegun mendengar orang jawa melantunkan Jazz dengan lirik dan dialek Jawanya.  Kalau begitu, jika dengan musik sepertinya orang bisa berdamai dan tertawa bersama, tidak sempat pula mereka berpikir untuk tawuran atau berperang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianmardiana.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianmardiana.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianmardiana.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianmardiana.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianmardiana.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianmardiana.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianmardiana.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianmardiana.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianmardiana.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianmardiana.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianmardiana.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianmardiana.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianmardiana.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianmardiana.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianmardiana.wordpress.com&amp;blog=11522366&amp;post=145&amp;subd=dianmardiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianmardiana.wordpress.com/2010/05/27/pulang-ke-kotamu-ada-setangkup-haru-dalam-rindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/869e72f2d64131308630674f4f3ed1db?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianmardiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/05/dsc01259.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Yoyo, pengamen Yogyakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/05/dsc01250.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01250</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianmardiana.files.wordpress.com/2010/05/dsc01262.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01262</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
