Belajar dari Salah (1)
Oleh: Dian Mardiana
HARI ini menjadi terasa bermakna. Begitu merenung, banyak hal yang terungkap begitu saja. Sambil makan bakso, rupanya saya teringat dengan projek yang saya dan kawan-kawan kerjakan, menyunting puluhan buku media informasi sebuah instansi. Pada projek ini kami awalnya akan menjadi ghost writer para elitis yaitu para penulis dari instansi mereka yang kebanyakan adalah para pejabat. Namun kami salah, dengan begitu mereka tidak belajar.
Lalu ditawarkanlah pelatihan penulisan media informasi dengan panduan penulisan yang sudah kami rancang. Sebelum pelatihan, kami sudah menugaskan mereka untuk membuat draf tulisan dengan panduan yang ada. Pada intinya tulisan itu harus mempertimbangkan siapa pembacanya, apa karakter pembaca, dan apa kepentingan pembaca sehingga dia mau dan perlu media informasi tersebut.
Pelatihanpun dirancang bertempat di hotel selama tiga hari. Para penulis, yang kami tidak pedulikan siapa mereka, dikurung di hotel untuk menyelesaikan tulisan dengan panduan yang kami buat. Pelatihan ini tentu hanya pemutakhiran belaka dari draf yang ada. Kami reviu puluhan buku tersebut satu per satu. Kemudian masing-masing penulis harus mempresentasikan dan meyakinkan forum kenapa media informasi ini penting untuk kami baca. Jika tulisan itu arahnya kemana-mana, maka mereka harus mengganti paragrafnya.
Setiap tulisan kami diskusikan dan debatkan. Kebanyakan gaya tulisan mereka begitu ilmiah dan padat teori. Sedangkan sasaran bukunya adalah para kepala dinas, bupati, dan walikota yang notabene tidak butuh teori yang tidak membumi. Kami tidak ingin menggurui karena mereka lebih paham. Apalagi mengingat deretan gelar di belakang namanya. Di akhir pelatihan mereka setidaknya berhasil menulis sebanyak 15 halaman dengan gaya penulisan populer versi mereka.
Sekarang giliran kami sebagai penyunting beraksi. Kami bagi tugas dalam tim. Saya kebagian menyunting 4 buku. Setelah dibaca, rupanya proses menyunting tidak semudah yang dikira. Dengan gaya penulisan akademis mereka, pekerjaan kami menjadi ganda. Membaca ulang, menyelami pemikiran mereka, dan yang paling berat adalah mengubah gaya penulisan yang berarti menulis kembali dari awal. Ini sebenarnya bukan tugas penyunting. Teman kami Dwi, menganalogikan tugas menyunting itu seperti ini, “Jika tulisan itu adalah mutiara, maka kami akan menggosoknya, membersihkan mutiara dari debu, lumut, dan kerak yang menempel sampai kemilau indahnya.” Rupanya kami salah. Kami harus membuat mutiara baru.



tak sengaja nmu blog ini, baca…
enak jga…!!!
Sugito Kronjot
January 14, 2011 at 3:08 am