Menonton Video IMD
Oleh: Dian Mardiana
EMPAT puluh minggu sudah, aku menantimu. Demi kau anakku. Hari ini aku sakit dan nyeri dan saat terdengar pecahnya nyaring tangismu, bahagia mengisi relung kalbuku. Mari sini nak, kudekap erat kamu.
Ketika dilahirkan bayi memiliki naluri untuk mencari sumber kehidupannya. Yang dibutuhkan hanyalah sentuhan kulit antara bayi dan ibunya dalam satu jam setelah kelahirannya. Penelitian membuktikan Inisiasi Dini Menyusu dalam satu jam kelahirannya meningkatkan keselamatan jiwa si bayi dan mendorong keberhasilan pemberian ASI selanjutnya. Begitu lahir, bayi cukup di lap hingga bersih. Dan tanpa dibedong langsung diletakan di perut atau dada ibunya. Biarkan bayi tengkurap sehingga terjadi sentuhan antara kulit perut atau dada ibu dan bayi dan refleks merangkak dan menyusu terjadi 20 hingga 50 menit kemudian. Sentuhan kulit ibu dan bayi akan menjaga suhu bayi dan menghangatkannya saat berusaha mencari puitng susu ibu. Sungguh suatu momen yang sangat menakjubkan ketika akhirnya bayi berhasil menemukan putting susu ibunya dan mulai menyusu. Dia akan segera mereguk kolostrom yang sangat berharga. Kolostrom atau susu pertama ibu yang berwarna kekuningan mengandung zat-zat penting untuk kekebalan tubuh bayi. Sentuhan mulut bayi dan putting itu juga merangsang produksi ASI dan melatih bayi menyusu serta mempererat kasih sayang ibu dan belahan hatinya. Sungguh menakjubkan. Mendekap dan membiarkan bayi menyusu dalam satu jam kelahirannya. Meningkatkan kelangsungan hidup si bayi. (Bayi Amelia, Klaten 13 Agustus 2007. Diunduh dari youtube.com didukung oleh Bakti Husada dan Unicef)
Pemutaran video Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terbukti mematahkan banyak mitos tentang ASI dan bayi. Mitos bahwa ASI tidak dapat keluar sebelum dua minggu dari kelahiran adalah kesalahan besar yang bisa dibuktikan secara alamiah pula ilmiah. Tidak hanya itu, pengetahuan warga pun lalu ikut berubah.
Pemutaran video IMD ini dilakukan di dua kampung, yaitu kampung Cipeundeuy dan Salamitan Tasikmalaya pada saat yang bersamaan (14/7). Tontonan yang berhasil memukau para penonton ini bukan sembarang film. Bukan pula, tontonan yang menghibur di waktu senggang. Melainkan, ketika tontonan ini membuat warga melek terhadap isu kesehatan artinya literasi warga Tasikmalaya meningkat.
Peningkatan literasi pada sesi ini termaktub dalam beberapa tahap. Warga tidak lagi diajari mengeja dan membaca kata. “Sudah pada bisa,” begitu cetus kader tentang belajar baca dan tulis. Hanya saja, pengetahuan memahami dan memaknai teks itu kurang. Mereka tidak biasa, tidak pula akrab dengan buku bacaan. Mereka terlalu sibuk bertani, kerja di pabrik, atau mengelim dan menjahit.
Membaca Teks Singkat
“Ibu-ibu aya nu teurang hartosna IMD?” tanya kader mengawali diskusi. Rupanya pertanyaan ini menyulut banyak suara. Warga belajar yang semuanya ibu-ibu Kampung Cipeundeuy Tasikmalaya itu ramai menjawab. “Inisiasi Menyusui Dini” ungkap mereka.
Amin, sang tutor, lalu meminta salah satu warga belajar untuk membaca paragraf tentang definisi IMD yang lebih lengkap. Namun, sepertinya mereka tahu betul IMD. Beberapa orang bahkan memaparkan panjang lebar ikut menjelaskan arti IMD lengkap dengan manfaatnya. Sayangnya, saat ditanya siapa yang sudah mempraktekan IMD, suara-suara itu mendadak diam.
Bisa dimaklumi, di setiap pengetahuan baru, muncul juga tantangan baru. Tutor cepat tanggap. Setiap warga belajar dipilih acak. Mereka secara bergantian diminta untuk baca satu paragraf.
Inisiasi dini juga berlaku untuk bayi yang lahir dengan cara sesar, vakum, kelahiran tidak sakit atau episiotomi. Hanya peluang untuk menemukan sendiri puting ibu akan berkurang sampai 50%. Ini juga berlaku untuk bayi yang begitu lahir dipisahkan untuk ditimbang, disinar, dan lain-lain.
Kenyataannya, memang IMD belum sepenuhnya dipraktekkan di Kampung ini. Padahal, banyak sumber menyebutkan bahwa dalam keadaan apapun, ibu bisa menyusui anaknya. Paragraf inilah yang dibaca keras oleh warga belajar. Mereka membaca bergantian dengan teks yang berbeda-beda.
Dari proses membaca teks ini, bisa dilihat ada dua hal yang saling berhubungan yaitu pengetahuan ibu-ibu tentang IMD dan budaya baca akan isu IMD. Keterkaitan antara dua hal ini terjadi secara timbal balik. Pertama, kurangnya penerapan IMD bisa jadi karena kurangnya budaya baca atau sebaliknya. Kedua, terbatasnya akses informasi kesehatan karena wilayah sulit dijangkau menyebabkan warga tidak paham IMD. Ketiga, sudah membatunya mitos-mitos yang berkaitan dengan isu kesehatan yang diyakini warga karena kurangnya literasi dan daya kritis warga belajar. Kalau begini, budaya belajar harus mulai dibangkitkan lagi. Saatnya menjadi pintar.
———————————–
Tulisan ini adalah hasil kerja sama Sumbangsih Nuansa Indonesia Tasikmalaya (SNIT), Studio Driya Media (SDM) Bandung, dan Sentra Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (SPPM) dengan dukungan dana dari Asia-Pasific Cultural Centre for UNESCO (ACCU) dan ASIENCE (Kao Corporation) Japan.



Aq ingin mraskn IMD,tekadku bwt ank k2 nanti.walo ank prtma kmrn tdk IMD,tp aq sukses dengan ASI eksklusif smp ankku 16 bln.Go IMD!!
evelin
September 29, 2010 at 1:52 pm
[...] The busiest day of the year was September 29th with 71 views. The most popular post that day was Menonton Video IMD. [...]
2010 in review « Dian Mardiana
January 2, 2011 at 11:37 am